Campak Picu Komplikasi Jangka Panjang, Dosen UGM Tekankan Pentingnya Vaksinasi

Berdasarkan Dinkes DIY per 3 Maret 2026, ditemukan 349 kasus suspek campak. Uji laboratorium, 57 terkonfirmasi positif campak.

Freepik
Ilustrasi campak. 

Ringkasan Berita:
  • Data Dinas Kesehatan DIY mencatat 349 suspek campak, dengan 57 kasus terkonfirmasi positif.
  • Cakupan vaksinasi dosis kedua menurun tipis menjadi 96,1 persen karena sebagian masyarakat menolak imunisasi.
  • Campak berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, hingga kematian, terutama pada bayi dan anak tanpa vaksin.
 

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. dr. Rr. Ratni Indrawanti, Sp.A(K) menekankan pentingnya vaksinasi untuk mencegah campak.

Kasus campak

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY per 3 Maret 2026, ditemukan 349 kasus suspek campak. Setelah uji laboratorium, 57 diantaranya terkonfirmasi positif campak.

Cakupan vaksinasi campak dosis pertama mencapai  98, persen, sementara untuk dosis kedua menurun tipis menjadi 96,1 persen. Penurunan cakupan vaksinasi ini akibat masih adanya kelompok kecil masyarakat yang menolak vaksinasi.

Ratni mengatakan campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru hingga kematian. 

“Banyak masyarakat yang menyepelekan campak. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia bahkan menyebabkan kematian,” katanya, Minggu (8/3/2026).

Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang seperti radang otak, kejang, hingga pneumonia yang dapat menurunkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah bayi, anak dengan gizi buruk, serta anak yang tidak mendapatkan vaksinasi

“Ada yang dinamakan gejala sisa, gejala sisa itu dapat menimbulkan radang otak, kejang, pneumonia, jadi ada penurunan kualitas generasi,” terangnya.

Vaksinasi

Ia menyebut vaksinasi mestinya diberikan saat anak  dalam kondisi sehat. Vaksinasi seharusnya diberikan dalam beberapa tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. 

Pengulangan ini diperlukan karena virus dalam vaksin memiliki kekuatan yang lebih lemah dibandingkan virus campak liar, sehingga perlu diberikan beberapa kali agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal.

"Jika vaksin ditunda, anak tidak memiliki antibodi dan berpotensi menularkan virus kepada orang di sekitarnya. Penundaan ini bukan hanya meningkatkan risiko (penularan campak), tetapi juga dapat memicu penularan yang lebih luas hingga menimbulkan kejadian luar biasa (KLB),” lanjutnya.

Penularan campak juga sangat cepat karena menyebar melalui udara. Dalam ruangan tertutup, virus ini bisa bertahan hingga dua jam. Satu anak yang terkena campak berpotensi menularkan virus tersebut kepada hingga 18 orang lainnya. 

Penurunan cakupan vaksinasi dapat berdampak serius bagi kesehatan masyarakat. Selain jumlah anak yang tidak  memiliki kekebalan bertambah, juga berpotensi meningkatkan penularan hingga meningkatnya  angka kematian anak.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved