Dampak Hujan Deras, Talud Setinggi 20 Meter di Giwangan Yogyakarta Longsor

Talud di kawasan Mrican, Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo dilaporkan longsor pada Selasa (17/2/2026) pagi

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/BPBD Kota Yogyakarta
LONGSOR - Personel gabungan BPBD dan TNI-Polri memantau lokasi kejadian talut longsor di kawasan Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (17/2/2026) 
Ringkasan Berita:
  • Sebuah talud dilaporkan mengalami longsor di kawasan Mrican, Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta pada Selasa (17/2/2026) pagi.
  • Longsornya talut karena dampak dari hujan deras yang mengguyur wilayah Yogyakarta
  • Material longsoran talut mengakibatkan kerusakan pada bangunan rumah kontrakan dan fasilitas umum di sekitar lokasi.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya, Senin (16/2/2026) malam, memicu insiden kebencanaan. 

Sebuah talud dilaporkan mengalami longsor di kawasan Mrican, Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, pada Selasa (17/2/2026) pagi.

Peristiwa yang terjadi kisaran pukul 06.00 WIB tersebut mengakibatkan kerusakan pada bangunan rumah kontrakan dan fasilitas umum di sekitar lokasi.

​Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengungkapkan talud tersebut memiliki dimensi panjang sekitar 20 meter dengan lebar 5 meter.

​"Laporan masuk ke kami sekitar pukul 09.30 WIB. Kejadian ini dipicu oleh kondisi tanah yang sudah tidak stabil pasca-gempa pada 6 Februari lalu, kemudian diperparah oleh intensitas hujan yang tinggi," terangnya.

Dampak Longsor

​Selain merusak bagian bangunan sebuah rumah kontrakan, material longsor juga menutup sebagian saluran irigasi yang mengakibatkan penyempitan arus air.

​Tak hanya itu, fasilitas sanitasi warga berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal milik Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) ikut terdampak 

​"Terdapat dua penghuni kontrakan yang terdampak langsung. Tapi, bisa kami pastikan, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini," jelasnya.

"Kebutuhan mendesak berupa terpal untuk menutup rekahan tanah agar longsor tidak meluas jika kembali turun hujan, serta pemasangan garis polisi di sekitar lokasi untuk keamanan warga," pungkas Kalak BPBD. 

Baca juga: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem di DIY Selama Tiga Hari ke Depan, Berikut Analisis BMKG

Laporan Dampak Cuaca Ekstrem

Sebelumnya, cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat memicu rentetan bencana hidrometeorologi dan tanah longsor hampir seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (16/2/2026).

Bencana hidrometeorologi ini menyebabkan kerusakan puluhan infrastruktur, memicu jatuhnya empat korban luka ringan, dan memaksa belasan warga lainnya mengungsi ke tempat aman. 

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD DIY yang dimutakhirkan hingga Senin (16/2/2026) pukul 24.00 WIB, dampak kerusakan tersebar secara merata di lima kabupaten/kota di DIY, dengan Kabupaten Sleman dan Kulon Progo mencatatkan titik kejadian terbanyak.

  • Sleman : 25 titik kejadian yang tersebar di tujuh kapanewon. Meliputi Sleman, Depok, Ngemplak, Ngaglik, Pakem, Prambanan dan Gamping.
  • Kulon Progo : Cuaca ekstrem dan tanah longsor melanda 19 titik yang berada di delapan kapanewon. Meliputi Kokap, Nanggulan, Pengasih, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Panjatan dan Sentolo.
  • Kota Yogyakarta :  Kejadian melanda tujuh lokasi di empat kemantren, yakni Kraton, Ngampilan, Gondokusuman, dan Mergangsan.
  • Gunungkidul : Tanah longsor dan cuaca ekstrem menerjang tujuh lokasi di enam kapanewon, yaitu Wonosari, Karangmojo, Tepus, Patuk, Ponjong, dan Panggang.
  • Bantul : Tanah longsor dilaporkan terjadi di satu lokasi di Kapanewon Kasihan. (*)
Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved