Sambut Ramadan, Pemkab Kulon Progo Gelar Nyadran Agung di Alun-alun Wates
Kegiatan Nyadran Agung menjadi tradisi rutin setiap tahun di Kulon Progo untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Pemkab Kulon Progo menggelar tradisi Nyadran Agung 2026 di Alun-alun Wates pada Kamis (12/02/2026).
- Kegiatan tersebut menjadi tradisi rutin setiap tahunnya untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan.
- Sejumlah Gunungan dikirab dari Halaman Kantor Sekretariat Daerah Kulon Progo menuju Alun-alun Wates, dan diakhiri dengan rayahan atau rebutan isi gunungan oleh warga yang datang.
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo melaksanakan Nyadran Agung 2026 di Alun-alun Wates pada Kamis (12/02/2026).
Kegiatan tersebut menjadi tradisi rutin setiap tahunnya untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan.
Seluruh rangkaian Nyadran Agung 2026 disiapkan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulon Progo.
Kepala Disbud Kulon Progo, Joko Mursito menjelaskan terdapat tema besar dalam Nyadran Agung 2026 ini.
"Tema besar yang kami angkat dalam Nyadran Agung 2026 ini adalah Ketahanan Pangan," kata Joko memberikan keterangannya.
Tema ini dipilih karena Nyadran Agung dinilai jadi wadah yang tepat untuk menggelorakan semangat membangun ketahanan pangan.
Apalagi tradisi itu jadi bentuk syukur terhadap hasil bumi yang diberikan oleh semesta.
Kirab Gunungan
Tema inipun terlihat dari isi gunungan yang dikirab untuk Nyadran Agung 2026.
Gunungan dipersembahkan oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), hingga seluruh kapanewon.
"Seluruh kapanewon antusias mengeluarkan potensi daerahnya masing-masing, mayoritas isi gunungannya adalah sayur-mayur dan hasil bumi lokal," ujar Joko.
Seluruh Gunungan tersebut dikirab dari Halaman Kantor Sekretariat Daerah Kulon Progo menuju Alun-alun Wates.
Baca juga: Soal PBI JK Dinonaktifkan, Ketua DPRD Kulon Progo Dorong Pemkab Kembalikan Hak Kesehatan Masyarakat
Doa syukur kemudian dilantunkan, diakhiri dengan rayahan atau rebutan isi gunungan oleh warga yang datang.
Joko mengatakan Gunungan jadi simbol kemakmuran dan penghormatan pada leluhur.
Tradisi rayahan pun jadi simbol meraih berkah agar masyarakat mendapatkan keberkahan hidup, mempererat silahturahmi, dan guyub rukun antar warga.
| Pemkab Kulon Progo Ingin Tiru Lembur Pakuan Jabar, Padukan Daya Tarik Wisata dan Pelestarian Budaya |
|
|---|
| Soal Pengadaan TKD Palihan dan Glagah, Pemkab Kulon Progo Usulkan Harmonisasi Pergub 24/2024 |
|
|---|
| FTI UAJY Serahkan Aplikasi Geotagging ke Pemkab Kulon Progo untuk Pemetaan Potensi Daerah |
|
|---|
| Pemkab Kulon Progo Belum Tentukan Skema WFH, Terkendala Atur Presensi Hingga Kinerja |
|
|---|
| Pemkab Kulon Progo Lepas 384 Calon Jemaah Haji 2026, Mayoritas Kelompok Usia Lanjut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Gunungan-Nyadran-Agung-di-Wates-Kulon-Progo-1222026.jpg)