Impor DIY Tahun 2025 Naik Jadi 174,60 Juta US Dollar

Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono mengatakan peningkatan impor DIY didorong oleh kenaikan bahan baku dan penolong

Tribun Jogja/Istimewa
DATA IMPOR DIY - Foto dok ilustrasi. Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono 
Ringkasan Berita:
  • Impor DIY pada tahun 2025 naik 0,97 persen. 
  • BPS DIY mengatakan peningkatan impor DIY didorong oleh kenaikan bahan baku dan penolong
  • Barang impor DIY didominasi dari Tiongkok yaitu US$ 68,20 juta, berperan 39,06 persen. 

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Impor DIY pada tahun 2025 mengalami kenaikan tipis sebesar 0,97 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, nilai impor DIY pada tahun 2025 mencapai US$174,60 juta, sedangkan pada tahun 2024 sebesar US$172,92 persen.

Impor bahan baku

Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono mengatakan peningkatan impor DIY didorong oleh kenaikan bahan baku dan penolong, yang meningkat dari US$152,11 juta menjadi US$155,49 juta. Artinya ada kenaikan 2,22 persen.

Impor barang konsumsi juga mengalami kenaikan, dari US$11,43 juta menjadi US$12,43 juta, sehingga meningkat 8,75 persen. Namun impor barang modal mengalami penurunan 28,78 persen, dari US$9,38 juta menjadi US$6,68 juta.

“Pertumbuhan impor disumbang oleh impor bahan baku penolong yang berkontribusi sebesar 89,50 persen dari total impor DIY,” katanya melalui keterangan daring.

Didominasi dar Tiongkok

Barang impor DIY didominasi dari Tiongkok yaitu US$ 68,20 juta, berperan 39,06 persen. Selain Tiongkok, komoditas diimpor dari Hongkong sebesar US$33,84 juta, atau berperan 19,38 persen. Kemudian Amerika Serikat, nilai impornya mencapai US$27,87 tau 15,68 persen.

“Kemudian Taiwan, Korea Selatan, dan lainnya. Negara Asia Timur mendominasi sumber impor dari barang-barang yang digunakan di DIY,” lanjutnya.

Komoditas impor terbesar sepanjang tahun 2025 ialah kain rajutan sebesar US$44,90 juta, kereta api, trem, dan sebagainya sebesar US$20,43 juta, dan kain tekstil dilapisi atau dilaminasi sebesar US$13,35 juta. 

Kain kempa, benang khusus, dan benang pintal menunjukkan persentase kenaikan terbesar yaitu 158,53 persen. Sementara itu, plastik dan barang dari plastik mengalami penurunan terdalam yaitu 34,64 persen.

“Diperhatikan lebih mendalam, maka beberapa komoditas yang diimpor dari Tiongkok itu juga meliputi bahan-bahan baku dan penolong untuk industri tekstil DIY. Sama halnya dengan produk yang diimpor dari Hongkong itu juga meliputi bahan baku industri tekstil,” terangnya. 

“Sementara untuk Amerika Serikat ini lebih banyak pada komoditas barang modal, terutama yang terkait dengan perbaikan barang modal untuk perbaikan kereta api, ada mesin peralatan mekanis, dan mesin dan perlengkapan elektrik,” imbuhnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved