Wacana Pembatasan Kendaraan di Jeron Beteng Tuai Kritik, Begini Kata Warga

Kondisi geografis Jeron Beteng yang cenderung luas membuat akses keluar-masuk menjadi tantangan tersendiri bagi para penghuninya.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM/ Azka Ramadhan
Pelengkung Wijilan, salah satu bangunan cagar budaya di Kota Yogyakarta. 

Ringkasan Berita:
  • Wacana kebijakan pembatasan kendaraan bermotor di kawasan cagar budaya Jeron Beteng, Kota Yogyakarta, memicu kekhawatiran warga. 
  • Sejumlah warga menilai kebijakan perlu dikaji ulang secara mendalam, agar tidak menyulitkan mobilitas harian masyarakat sekitar.
  • Warga menyebut solusi yang paling realistis adalah, Pemda DIY membatasi kendaraan wisatawan, terutama bus berukuran besar, agar tidak masuk ke jantung Jeron Beteng.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wacana kebijakan pembatasan kendaraan bermotor yang melintas di kawasan cagar budaya Jeron Beteng, Kota Yogyakarta, memicu kekhawatiran di tingkat akar rumput. 

Sejumlah warga yang tinggal di dalam tembok Kraton Yogyakarta tersebut menilai kebijakan perlu dikaji ulang secara mendalam, agar tidak menyulitkan mobilitas harian masyarakat lokal.

​Bayu Sejati, warga Panembahan, Kemantren Kraton, mengungkapkan keberatannya jika kebijakan tersebut dipukul rata tanpa melihat kepentingan warga setempat. 

Menurutnya, kondisi geografis Jeron Beteng yang cenderung luas membuat akses keluar-masuk menjadi tantangan tersendiri bagi para penghuninya.

​"Sebagai warga Jeron Beteng, khususnya daerah Wijilan, saya merasa keberatan. Untuk keluar dari Beteng itu jaraknya cukup jauh, bisa lebih dari 500 meter. Kalau akses warga dibatasi, itu rasanya tidak manusiawi," katanya, Senin (2/2/2026).

​Berdasar pengamatannya, titik persoalan Jeron Beteng bukan terletak pada kendaraan pribadi warga, tetapi menjamurnya armada pariwisata dan kurangnya fasilitas parkir pribadi. 

Ia mencontohkan, kondisi kawasan Wijilan, serta Alun-alun Utara dan Selatan yang kerap macet total saat musim liburan atau sekadar akhir pekan.

"Kadang ada yang parkir sembarangan, mepet sampai menghalangi pintu keluar gang. Hal-hal seperti itu kan masih sering terjadi. Seharusnya, itu yang ditertibkan dulu," tegas Bayu.

​Lebih lanjut, ia menyoroti keberadaan bus-bus pariwisata dan kendaraan wisatawan yang sering kali hanya sekadar melintas tanpa tujuan jelas dan menambah beban jalan. 

Baca juga: Trayek Bus Listrik DIY Dialihkan, Uji Coba Fokus Kawasan Sumbu Filosofis

Solusi Realistis

​Menurutnya, solusi yang paling realistis adalah, Pemda DIY membatasi kendaraan wisatawan, terutama bus berukuran besar, agar tidak masuk ke jantung Jeron Beteng

​"Jangan sampai kebijakan ini justru memberatkan warga yang memang tinggal di sini. Kalau di jalan utama seperti Wijilan atau daerah (Pelengkung) Gading, akses warga harus tetap prioritas karena rutenya jauh kalau memutar," ucapnya.

Setali tiga uang, warga Kadipaten, Kemantren Kraton, Sujiwo, mendorong pemerintah supaya membuka ruang dialog seluas-luasnya sebelum menetapkan regulasi permanen.

Menurutnya, langkah-langkah kompromis diperlukan untuk memastikan keseimbangan antara pelestarian kawasan heritage dan kenyamanan hidup penduduk lokal. 

"Jangan kemudian tiba-tiba dibatasi, diterapkan dengan dalih uji coba, tidak boleh lewat sana, atau kalau lewat situ harus berputar dulu, kan jadinya warga yang repot," ungkapnya.

"Jatuhnya kayak Pelengkung Gading kemarin, tiba-tiba ditutup, tidak bisa dilewati. Harapan kami, ya ada diskusi dulu, biar pelestarian jalan, warga juga enak," tambah Sujiwo. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved