Program 'Jogja Tanpa Rumput' Berlanjut, Sasar Kawasan Kotabaru
Kegiatan difokuskan pada pembersihan rumput-rumput liar, dedaunan, ranting, serta sampah organik lain dari trotoar, bahu jalan,
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Program Jogja Tanpa Rumput dilanjutkan menyasar kawasan Kotabaru Yogyakarta
- Kegiatan difokuskan pada pembersihan rumput-rumput liar, dedaunan, ranting, serta sampah organik lain dari trotoar, bahu jalan, dan fasilitas umum.
- Program Jogja Tanpa Rumput dicanangkan Wali Kota Hasto Wardoyo agar Yogyakarta menjadi kota wisata kelas dunia
TRIBUNJOGJA.COM - Program Jogja Tanpa Rumput kembali dilangsungkan Pemkot Yogyakarta dengan menyasar kawasan Kotabaru, Jumat (30/1/26).
Kerja bakti massal pun digulirkan puluhan personil Satpol PP dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, dari seputaran Babon Aniem, hingga Gedung RRI.
Fokus bersihkan rumput liar
Kegiatan difokuskan pada pembersihan rumput-rumput liar, dedaunan, ranting, serta sampah organik lain dari trotoar, bahu jalan, dan fasilitas umum.
Kepala Satpol PP Kota Yogyakarta, Octo Noor Arafat, mengatakan, kerja bakti ini merupakan kelanjutan program Jogja Tanpa Rumput yang dilaksanakan secara berkala.
"Fokus kami adalah pembersihan trotoar dari rumput liar, sekaligus pengangkutan sampah yang ada di kawasan Kotabaru," tandasnya.
Wajah Jogja kota wisata
Sebagai informasi, program Jogja Tanpa Rumput dicanangkan Wali Kota Hasto Wardoyo melalui aksi perdana di pedestrian Pojok Beteng Kulon ke utara, Minggu (18/1/26) silam.
Ia pun menandaskan, mustahil mengklaim diri sebagai kota wisata kelas dunia jika urusan kebersihan sebagai aspek paling dasar belum bisa dituntaskan.
"Saya malu ketika wisatawan datang berjuta-juta, tapi di jalan-jalan banyak rumputnya. Kita ini hanya ingin memantaskan diri sebagai tempat yang dikunjungi banyak orang," ujarnya.
Mantan Bupati Kulon Progo tersebut berharap, dapat memboyong standar kebersihan kelas wahid dari Singapura menuju sudut-sudut Kota Pelajar.
Ia menyadari, untuk menandingi Singapura dari segi infrastruktur daerahnya belum mampu, sehingga upaya disiplin menjaga kebersihan yang bakal ditonjolkan.
"Kita mimpinya Yogyakarta jadi The Little Singapore. Kalau kita belum punya uang banyak untuk pembangunan fisik, minimal bersih-bersih. Semua harus bersih dan tertib, dimulai dari hal yang paling kecil, yaitu rumput liar," tegasnya.
Agenda bersih-bersih
Tak berhenti di seputaran Jokteng Kulon, gerakan tersebut dipastikan menjadi agenda rutin setiap dua minggu sekali sepanjang tahun 2026.
Selain mencabuti rumput, kerja bakti massal juga menyasar perapian pohon-pohon yang sudah rimbun, serta pembersihan selokan untuk mengantisipasi genangan air.
"Dua minggu sekali kita akan turun ke semua jalan secara bergilir di 10 wilayah. Harapannya, rumput tidak sempat tinggi lagi. Kita ingin membuktikan, dengan gotong royong, Yogya bisa tertib dan bersih sepenuhnya," pungkasnya. (aka)
| Tiga Bulan, 1,75 Juta Pelancong Kunjungi Sleman, Candi Prambanan Masih Favorit |
|
|---|
| Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Hari Sabtu 25 April 2026 dari St. Tugu |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Siapkan Lahan 2 Hektare untuk 'Taman Pintar II' di Umbulharjo |
|
|---|
| Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Sore-Malam Hari Ini Jumat 24 April 2026 |
|
|---|
| Sri Sultan HB X Akan Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan secara Menyeluruh pada 4 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Program-Jogja-Tanpa-Rumput-Berlanjut-Sasar-Kawasan-Kotabaru.jpg)