Tiga Sapi di DIY Mati Akibat PMK, Pemerintah Gencarkan Vaksinasi
Pemerintah merespons peningkatan kasus penyakit menular ini dengan menggencarkan program vaksinasi.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- DPKP DIY mengungkap data sepanjang Januari tahun ini terdapat laporan 174 kasus PMK DIY. Dari jumlah tersebut, 63 sembuh, 108 masih dalam pengobatan dan 3 ekor sapi mati.
- Vaksinasi PMK pun digencarkan. Pemerintah mengalokasikan vaksin PMK di DIY di tahun 2026 sebanyak 104 ribu dosis untuk 2 kali periode bulan vaksinasi, yaitu Januari- Maret dan Juli - September dengan masing-masing 52 ribu dosis.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menghantui peternak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada awal tahun 2026. Tiga ekor sapi dilaporkan mati akibat paparan virus yang menyerang hewan berkuku belah ini, seiring tren peningkatan kasus.
Pemerintah merespons peningkatan kasus penyakit menular ini dengan menggencarkan program vaksinasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho mengatakan bahwa PMK merupakan penyakit hewan menular yang cepat menyebar dan menimbulkan dampak ekonomi bagi peternak.
Tiga sapi mati
Karena itu, vaksinasi sangat penting sebagai langkah pencegahan dengan meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh ternak.
Mengingat, sepanjang Januari tahun ini terdapat laporan 174 kasus PMK DIY. Dari jumlah tersebut, 63 sembuh, 108 masih dalam pengobatan dan 3 ekor sapi mati.
"Ini menjadi gambaran bahwa vaksinasi itu penting. Mengingat masih ada peternak yang menganggap vaksinasi itu akan melemahkan hewan. Padahal vaksinasi justru membuat hewan akan semakin kuat," kata Aris, saat menghadiri gerakan vaksinasi PMK bersama Kementan dan BBVet Wates di Kelompok Lestari Mulyo, Sleman, Kamis (29/1/2026).
Vaksinasi di kandang komunal
Pelaksanaan vaksinasi di kandang komunal kelompok ternak Lestari Mulyo ini dihadiri semua stakeholder pertanian. Mulai dari Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Agung Suganda; Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Nur Saptahidayat; Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho; Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto dan para peternak.
Selain pemberian vaksin, mereka juga berkeliling mengecek langsung kebersihan kandang ternak yang merupakan faktor penting untuk menjaga kesehatan hewan. Kandang yang bersih berperan mencegah penyakit, mengurangi stres ternak dan meningkatkan produktivitas.
Kebersihan kandang
Kepala BBVet Wates, Nur Saptahidayat menilai kebersihan kandang komunal di kelompok ternak Lestari Mulyo sudah cukup baik. Hanya saja memang ada beberapa kandang yang perlu dijaga kebersihannya dari kotoran yang menumpuk. Sedangkan terkait PMK, Sapta mengingatkan kepada peternak agar sapi sakit tidak dijual melainkan dikarantina dan langsung diberi pengobatan.
"Jangan sampai dijual ya, karena sebenarnya PMK jika tanpa dibarengi dengan penyakit lain masih bisa diobati. Bisa diterapi antibiotik. Yang penting kukunya dirawat, jangan sampai copot. Lalu segera lakukan pengobatan, itu masih bisa sembuh," ujar dia.
Sapi sakit dipisahkan dan dikarantina selama 14 hari. Apabila ada sapi sakit dengan gejala PMK, biasanya tim dari BBVet akan diturunkan untuk mengambil sampel swab maupun sampel darah ternak. Selanjutnya sampel tersebut akan diuji laboratorium untuk mengonfirmasi penyakit PMK atau tidak. Jika PMK maka penanganan akan segera dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan.
Geber Vaksinasi
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Agung Suganda mengatakan dalam upaya pengendalian PMK, pihaknya mengalokasikan 4 juta dosis vaksin PMK untuk 29 Provinsi Endemik dengan pendekatan vaksinasi tertarget dan serentak. Adapun alokasi vaksin PMK di DIY di tahun 2026 sebanyak 104 ribu dosis untuk 2 kali periode bulan vaksinasi, yaitu Januari- Maret dan Juli - September dengan masing-masing 52 ribu dosis.
Pihaknya mendorong agar vaksinasi PMK segera dilaksanakan pada ternak yang sehat. Pelaksanaan vaksinasi melibatkan Dinas atau OPD terkait serta peran dari asosiasi peternakan atau kesehatan hewan maupun perguruan tinggi. Selain vaksinasi, upaya pengendalian juga dilakukan dengan pengawasan lalulintas ternak, penerapan biosekuriti, serta respon kasus di lapangan dengan cepat dan terukur.
"Semua upaya ini merupakan satu kesatuan, kebijakan untuk memberikan kepastian usaha bagi peternak dan menjaga produktivitas ternak," ujar dia.(*)
| Sensus Ekonomi DIY Dimulai Mei 2026, Fokus Bidik Lonjakan Pelaku E-Commerce |
|
|---|
| Eko Suwanto Kampanyekan Gerakan Gemar Makan Ikan, Dorong Pemda Fasilitasi Gizi Terbaik untuk Balita |
|
|---|
| Catatan Jogja Police Watch: Kejahatan Jalanan di Jogja Kian Brutal di Awal 2026 |
|
|---|
| Okupansi Hotel di Jogja selama Long Weekend Paskah Tak Sesuai Harapan |
|
|---|
| Sekda DIY Pastikan WFH ASN Bukan Hari Libur: Wajib Ada Laporan dan Output Harian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tiga-Sapi-di-DIY-Mati-Akibat-PMK-Pemerintah-Gencarkan-Vaksinasi.jpg)