Kampus Bisa Jadi Ruang Rentan Penukaran Super Flu, Pakar UMY Sebut Perlunya Kesadaran Kolektif
Aktivitas tatap muka yang padat, mobilitas mahasiswa yang tinggi, serta jejaring interaksi yang luas berpotensi mempercepat penyebaran infeksi
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Dokter spesialis penyakit dalam UMY menyebut kampus dapat menjadi ruang yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular, termasuk super flu.
- Aktivitas tatap muka yang padat, mobilitas mahasiswa yang tinggi, serta jejaring interaksi yang luas berpotensi mempercepat penyebaran infeksi saluran pernapasan.
- Untuk mencegah penularan, kewaspadaan kolektif sivitas akademika menjadi faktor kunci.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Agus Widyatmoko, Sp.PD., M.Kes., menyebut kampus dapat menjadi ruang yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular, termasuk super flu.
Ia mengatakan kampus memiliki karakteristik sosial yang khas.
Aktivitas tatap muka yang padat, mobilitas mahasiswa yang tinggi, serta jejaring interaksi yang luas berpotensi mempercepat penyebaran infeksi saluran pernapasan.
Untuk mencegah penularan, kewaspadaan kolektif sivitas academika menjadi faktor kunci.
"Mahasiswa memiliki mobilitas yang tinggi, jejaring pergaulan yang luas, dan sering berpindah dari satu ruang ke ruang lain. Kondisi ini membuat lingkungan kampus memiliki risiko tersendiri jika tidak disertai kesadaran kesehatan yang baik," katanya.
Dalam lingkungan yang padat seperti kampus, lanjutnya, kecepatan penularan penyakit dapat berdampak pada meningkatnya jumlah kasus. Secara nasional tercatat ada 62 kasus super flu.
Baca juga: Waspada Super Flu Masuk Jogja, Gejalanya Lebih Ekstrem dan Durasi Sakit Panjang
Antisipasi Dini
Menurut dia, penyakit ini harus diantisipasi sejak dini melalui langkah-langkah pencegahan sederhana namun konsisten.
Agus menekankan pentingnya budaya saling melindungi di lingkungan akademik, antara lain dengan membiasakan penggunaan masker saat mengalami gejala flu, menjaga kebersihan tangan, serta tidak memaksakan diri untuk tetap beraktivitas ketika sedang sakit.
Ia menilai bahwa kedisiplinan individu memiliki peran besar dalam memutus rantai penularan.
"Flu tidak boleh dianggap sepele, karena satu orang yang sakit bisa menularkan ke banyak orang di lingkungan kampus,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan agar sivitas akademika lebih peka terhadap tanda-tanda infeksi yang memerlukan perhatian medis, seperti demam tinggi yang menetap, nyeri otot berat, atau gangguan pernapasan.
Deteksi dan penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. (*)
| Belasan Bayi Dievakuasi di Sleman, Pakar Hukum UMY Sebut Ada Ancaman Pidana Bagi Bidan ORP |
|
|---|
| Awas! Pusar Bayi Baru Lahir Keluar Cairan, Bisa Jadi Ada Tanda Bahaya yang Wajib Orang tua Ketahui |
|
|---|
| Delegasi UMY Bertemu Kardinal Vatikan, Sepakati Koalisi Organisasi Keagamaan Lawan Perang Ekonomi |
|
|---|
| Festival ICCF UMY, Saat Kuliner dan Budaya Jadi Bahasa Universal Perdamaian |
|
|---|
| Ekonom UMY Perkirakan Inflasi DIY Meningkat pada April 2026, Ini Pemicunya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-influenza-atau-pilek.jpg)