DPRD Yogya Desak Penertiban Parkir Liar Menjelang Nataru
Praktik parkir liar masih terus terjadi di sekitar Malioboro. DPRD Kota Yogya pun meminta pemkot bertindak tegas
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Praktik parkir liar dan pungli masih marak di Yogyakarta jelang libur Nataru, terutama di Malioboro, Stasiun Tugu, dan Jalan Pasar Kembang, meski aturan sudah ada.
- DPRD Kota Yogya menyoroti lemahnya pengawasan dan mendorong penertiban tegas agar kenyamanan wisatawan tetap terjaga dan pendapatan retribusi parkir tidak bocor.
- Pemkot menyiapkan kantong parkir baru di utara Teteg Malioboro (200 SRP) dan Stadion Kridosono (100 SRP) untuk mengurangi kepadatan dan potensi parkir liar.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bayang-bayang praktik parkir liar kembali menghantui Kota Yogyakarta menyambut lonjakan wisatawan pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Meski menjadi masalah klasik yang terus berulang, nyatanya di lapangan praktik-praktik ilegal penarikan jasa parkir tanpa karcis resmi semacam itu masih jamak ditemukan.
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Munazar, mengungkapkan, ada deretan laporan dari masyarakat hingga wisatawan yang didominasi oleh penarikan tarif parkir di luar ketentuan tanpa disertai karcis.
Praktik itu dilaporkan terjadi di jantung wisata seperti kawasan Malioboro serta wilayah penyangga lainnya, yang diprediksi bakal diserbu massa saat malam pergantian tahun.
"Setiap menjelang libur panjang, persoalan parkir liar dan pungli selalu muncul. Artinya, ini menunjukkan pengawasan belum optimal. Aturan sudah ada, tetapi implementasinya di lapangan masih lemah," tandasnya, Selasa (23/12/2025).
Menurut Munazar hal tersebut memicu kekhawatiran publik, bahwa momentum libur panjang kali ini akan kembali diwarnai aksi oknum yang memanfaatkan celah lemahnya pengawasan.
Politikus Partai Golkar itu bilang, citra Yogyakarta sebagai kota wisata yang ramah dan nyaman menjadi taruhannya jika praktik parkir liar terus dibiarkan tanpa tindakan tegas.
Oleh sebab itu, ia mendorong Pemkot Yogyakarta untuk tidak sekadar menunggu laporan, melainkan segera melakukan langkah konkret di lapangan.
Baca juga: Malioboro Padat, Wali Kota Yogya Ajak Warga Pilih Destinasi Alternatif
Pengawasan rutin dan penertiban terpadu yang melibatkan Dinas Perhubungan dan kepolisian harus diperketat, terutama di titik-titik rawan sepanjang masa libur Nataru.
"Jika dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada kenyamanan pengunjung, tapi juga menurunnya kepercayaan publik, serta potensi kebocoran pendapatan daerah dari retribusi parkir," ungkapnya.
Sementara, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menyebutkan, bahwa potensi parkir liar paling besar berada di sisi selatan Stasiun Tugu.
Menurutnya, kawasan Jalan Pasar Kembang, serta sirip-sirip kawasan Malioboro menjadi perhatian utama karena tingginya demand wisatawan selama ini.
"Jadi kalau potensi parkir liar memang terutama di selatan Stasiun Tugu atau di Jalan Pasar Kembang, itu menjadi salah satu titik yang paling potensial," tandasnya.
Selain itu, kawasan Malioboro tetap menjadi magnet utama yang memicu timbulnya parkir liar, karena pola wisatawan yang ingin memarkirkan kendarannya sedekat mungkin.
| Jogja Takbir Festival 2026 Bakal Digelar di Malioboro, Hasto Wardoyo: Jadi Daya Tarik Wisata |
|
|---|
| Bus Wisata Dilarang Masuk, Pemkot Yogya Siapkan Pangkalan Becak dan Andong di TKP Senopati |
|
|---|
| Jogja 10K 2026 Kerek Okupansi Hotel Dekati 100 Persen, Buktikan Daya Tarik 'Sport Tourism' Inklusif |
|
|---|
| Sambut May Day, Elemen Masyarakat Gedongtengen Ikut Kawal Kondusivitas Kawasan Malioboro |
|
|---|
| Praktik Pijat Liar di Malioboro Jadi Fokus Penertiban, Petugas Sering Terlibat 'Kucing-kucingan' |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/beraktivitas-di-Jalan-Pasar-Kembang-akhir-pekan-lalu.jpg)