Pemecah Ombak Glagah - Congot di Kulon Progo Jadi Daya Tarik Baru Wisatawan

Pemecah ombak tersebut jadi pemandangan menarik bagi wisatawan yang melewati jalan sepanjang antara Glagah dan Congot.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Alexander Aprita
DAYA TARIK: Pengendara melintas di depan gapura penanda pemecah ombak antara Pantai Glagah dan Pantai Congot di Kapanewon Temon, Kulon Progo, Selasa (02/12/2025) lalu. Kawasan itu kini menjadi daya tarik baru masyarakat dan wisatawan. 
Ringkasan Berita:
  • Pemecah ombak di Kawasan Pantai Glagah dan Pantai Congot di Kapanewon Temon, Kulon Progojadi pemandangan menarik bagi wisatawan.
  • Titik tersebut mulai memancing keramaian pengunjung sejak November lalu. Kunjungan semakin ramai sejak keberadaan pemecah ombak itu ramai jadi pembicaraan di media sosial.

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kawasan Pantai Glagah dan Pantai Congot di Kapanewon Temon, Kulon Progo kini memiliki daya tarik baru. Daya tarik itu berupa pemecah ombak yang ada di sepanjang pesisir antara dua pantai tersebut.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulon Progo, Aris Widiatmoko mengatakan pemecah ombak tersebut merupakan proyek strategis dari Yogyakarta International Airport (YIA) di sisi utaranya.

"Desember ini proyeknya tinggal penyelesaian, namun kalau melihat kondisinya sebenarnya sudah selesai," kata Aris pada Rabu (03/12/2025).

Pemecah ombak tersebut jadi pemandangan menarik bagi wisatawan yang melewati jalan sepanjang antara Glagah dan Congot. Apalagi terdapat gapura penanda keberadaan pemecah ombak tersebut.

Makin ramai

Menurut Aris, titik tersebut mulai memancing keramaian pengunjung sejak November lalu. Kunjungan semakin ramai sejak keberadaan pemecah ombak itu ramai jadi pembicaraan di media sosial.

"Memang yang bisa dikunjungi masih terbatas karena ada beberapa bagian belum boleh dimasuki umum," jelasnya.

Kawasan tersebut tak hanya menarik perhatian warga lokal, tapi juga wisatawan luar daerah. Mereka akan berhenti untuk menepi lalu mengabadikan suasana di sekitar pemecah ombak.

Mereka pun diimbau untuk tetap menjaga kondisi sekitar agar tetap bersih. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mendekat ke bibir pantai atau bahkan berenang di laut.

"Sebab akan sangat berbahaya bagi pengunjung karena bisa terseret gelombang laut," ujar Aris.

Munculnya daya tarik masyarakat ke pemecah ombak itu pun membawa berkah bagi pedagang sekitarnya. Seperti Sri Endah yang memiliki warung sederhana persis di depan gapura penanda pemecah ombak.

Ia mengatakan pengunjung biasanya ramai berdatangan pada sore hari. Mereka kemudian datang ke warungnya untuk membeli jajanan berupa makanan dan minuman untuk teman bersantai.

"Kalau ramai begitu, saya bisa mendapat penghasilan sampai Rp 300 ribu sehari," kata Sri.(alx)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved