Puluhan Siswa Sriharjo Imogiri Terdampak Longsor, 14 di antaranya Belajar Secara Daring

Putusnya jalur wisata Srikeminut di wilayah tersebut juga membuat sebagian anak-anak kesulitan menuju sekolah

Tribunnews.com/TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
Sejumlah warga di Srikeminut di Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, sedang melintasi jalan setapak dekat jalan putus pada Senin (24/11/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Longsor jalan jalur wisata Srikeminut di Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul juga membuat akses menuju SD Negeri Kedungmiri terhambat. 
  • Sebagian siswa SD tersebut akhirnya harus belajar daring karena tidak bisa melalui jalur utama menuju sekolahnya akibat jalan putus.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan siswa SD Negeri Kedungmiri di Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, terdampak bencana longsor yang membuat jalan menuju sekolah terputus.

Putusnya jalur wisata Srikeminut di wilayah tersebut juga membuat sebagian anak-anak kesulitan menuju sekolah sehingga kegiatan belajar sebagian siswa harus melalui daring atau online mulai Senin (24/11/2025).

Orang tua siswa, Niken Susanti (28), mengatakan, putrinya tidak berangkat sekolah dikarenakan akses jalan utama di Sriharjo terputus pada Jumat (21/11/2025). 

"Kata ibu guru untuk yang terdampak longsor (jalan putus) itu diliburkan sementara. Tapi, tetap belajar secara online," katanya saat dijumpai di dekat lokasi terdampak jalan putus, Senin (24/11/2025).

Dikatakannya, proses belajar secara online dilakukan mulai hari Senin. 

Kondisi jalan putus tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain aktivitas perjalanan sekolah, kata Niken aktivitas lain seperti belanja sayur juga menjadi terhambat.

"Karena terputus, aksesnya jadi terhambat. Kalau mau ke Imogiri, harus muter. Kalau dulu kan (sebelum jalan putus) cuma lurus saja, sekarang malah harus muter lewat Siluk," tuturnya.

Jika tidak ingin memutar, ia harus rela melalui area sawah dan jalan setapak untuk menyebarang ke kampung sebelah. 

"Jadi, berangkat dari rumah, motornya di tinggal di seberang sebelum jalan putus. Terus saya jalan kaki lewat jalan setapak. Terus di sini (sudah nyebrang) dijemput sama ibu," tuturnya.

Adapun jarak rumah Niken ke lokasi kejadian jalan putus sekitar 500 meter. Begitu pula dengan jarak rumah orang tua Niken yang disebut cukup jauh dari lokasi kejadian.

Sementara itu, anak Niken, Aqila Salsabila Putri (10), yang terlihat bersama dengan Niken memilih diam saat ditanya terkait aktivitas sekolahnya secara daring.

Belajar daring

Terpisah, Kepala SD Kedungmiri, Sudarsih, mengatakan, ada 23 siswa yang terdampak jalan terputus. Jumah siswa yang terdampak itu tersebar di berbagai kelas.  

"Dari jumlah yang terdampak itu, untuk hari ini ada yang daring dan ada yang tetap datang sekolah dengan catatan diantar orang tuanya sampai jalan putus. Kemudian disebrangkan oleh orang tuanya terus sampai ke sekolah," ujarnya.

Untuk kembalinya, bapak ibu guru SD Kedungmiri harus mengantarkan para siswanya sampai ke jalan putus. Kemudian, para siswa nyebrang jalan putus tersebut dan dijemput oleh para wali siswa. Di mana, jumlah siswa yang melakukan tatap muka sebanyak sembilan siswa dan daring sebanyak 14 siswa.

"Daring berlangsung mulai hari ini. Dan pelaksanaan daring menyesuaikan, karena kebetulan kan saat ini tidak hujan. Jadi, kalau yang bisa berangkat sekolah, anak-anak masih bisa lewat jalan sawah (tepi lokasi jalan putus)," tutur dia.

"Tapi kalau nanti ada cuaca hujan deras, maka kegiatan belajar mengajar dilakukan daring. Alhamdulillah, yang daring, anak-anak sudah memiliki handphone dan akses internet juga," imbuhnya.

Kebetulan saat ini, siswa kelas VI sedang try out. Dikarenakan, di kelas VI itu hanya ada satu anak yang terdampak dan masih bisa datang sekolah, maka bisa mengikuti try out tanpa kendala.

"Kami sudah berkoordinasi dengan lurah. Beliau menyampaikan bahwa kemungkinan setelah dua minggu baru ada jalan alternatif, karena akan dikaji dulu. Mungkin jalan alternatif itu lewat sawah itu," paparnya.

Di sisi lain, dikarenakan kondisi cuaca tidak menentu dan pada 3-10 Desember 2025 para siswa SD Kedungmiri sudah melakukan asesmen semester satu, maka pihaknya juga mulai menyiapkan alternatif lain.

"Jadi, seandainya nanti hujan deras, nanti soal akan didistribusikan oleh bapak ibu guru ke rumah siswa atau nanti ada titik kumpul di rumah yang paling barat, maka kami akan berkoordinasi sama yang punya rumah untuk menjadikan tempat itu sebagai titik kumpul," urainya.

Adapun metode pengawasan ujian diharapkan masing-masing orang tua siswa dapat turut serta mendorong anak-anaknya melaksanakan ujian dengan sejujur-jujurnya. Sebab, momen seperti ini menjadi bagian untuk menigkatkan sikap jujur para siswa.

"Semoga nanti cuaca tetap mendukung, tidak hujan terus, jadi anak-anak tetap bisa nyebrang berangkat ke sekolah lewat pinggir (jalan setapak dekat lokasi jalan putus dan tanah longsor," pintanya.(nei)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved