Kolaborasi UAD dan Kulon Progo Wujudkan Kabupaten Herbal
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan ingin menjadikan Bumi Menoreh sebagai kabupaten herbal di DIY.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Bupati Kulon Progo Agung Setyawan ingin menjadikan Bumi Menoreh sebagai kabupaten herbal di DIY.
Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di ruang kerjanya pada Senin (27/10/2025) lalu.
Hadir dalam kegiatan itu Asisten Pemerintahan dan Kesra Ambar Jazil Wash'an, Staf Ahli Bupati Bidang Kesra dan SDM Heri Darmawan, Kadis Kominfo Agung Kurniawan, serta Kabag Kesra Ridwan Usman.
Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sebelumnya melaksanakan program pengabdian masyarakat dengan melakukan pendampingan dan pengembangan tanaman herbal di Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo.
Menurut Bupati, kawasan Pegunungan Menoreh menyimpan banyak kekayaan alam, terutama tanaman herbal yang banyak memberikan manfaat kepada masyarakat.
Tak hanya untuk obat, namun juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
Program yang dijalankan oleh PPK Ormawa IMM Fakultas Farmasi UAD di Kalurahan Purwosari ini tentunya memberikan manfaat yang cukup besar.
Pihaknya pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kontribusi sivitas akademika UAD bagi masyarakat Kulon Progo, khususnya melalui pendampingan dan pengembangan tanaman herbal di Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo.
“Kawasan Pegunungan Menoreh menyimpan banyak tanaman dengan kandungan antioksidan tinggi yang secara tradisional telah digunakan sebagai obat oleh masyarakat setempat,” ujar Agung.
Beberapa tanaman herbal yang banyak ditemukan di Purwosari di antaranya rosella (Hibiscus sabdariffa) untuk meningkatkan daya tahan tubuh, pegagan (Centella asiatica) untuk membantu pemulihan pascastroke, sintrong (Gynura crepidioides) untuk meluruhkan batu ginjal.
Kemudian kenanga (Cananga odorata) yang memberikan efek relaksasi, sidaguri (Sida rhombifolia) untuk mengatasi asam urat, serta putri malu (Mimosa pudica) dan brotowali (Tinospora crispa) yang dikenal menurunkan kadar gula darah.
Baca juga: BPBD Kulon Progo Catatkan 9 Kejadian Bencana Hidrometeorologi Akibat Guyuran Hujan Semalaman
Menurutnya, kekayaan alam ini menjadikan Kulon Progo layak dikenal sebagai “Kabupaten Herbal”, mengingat melimpahnya vegetasi tanaman obat di kawasan tersebut.
“Julukan Kabupaten Herbal bagi Kulon Progo perlu kembali digaungkan. Potensi ini harus kita kembangkan agar bernilai ekonomis dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui budidaya tanaman herbal,” tegas Agung.
Dalam kesempatan tersebut, disepakati langkah keberlanjutan program melalui pelatihan dan edukasi masyarakat, pembentukan unit usaha pengolahan herbal, serta sinergi lintas perangkat daerah untuk memperkuat identitas Kulon Progo sebagai Kabupaten Herbal.
Menutup pertemuan, Bupati Agung menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia usaha agar hasil pengembangan tanaman herbal dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Program ini perlu terintegrasi dengan sektor industri agar kapasitas produksi meningkat, produk memiliki standar mutu, bahkan bisa menembus pasar ekspor. Dengan begitu, akan tercipta pasar baru dan lapangan kerja bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa IMM Farmasi UAD, Muhammad Rifqi Rahadi, menjelaskan bahwa kegiatan tahun 2025 mengusung tema “Empowering Biodiversity-Based Village: Sinergi Tumbuhan Obat dan Inovasi Ekonomi untuk Mewujudkan Kemandirian Kalurahan Purwosari melalui Kafetaria Djagongan Djamoe.”
Program ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui konservasi tanaman obat, peningkatan keterampilan pengolahan produk herbal, serta pembentukan Kafetaria Djagongan Djamoe sebagai pusat ekonomi berbasis herbal di Purwosari.
“Kami ingin menghadirkan Purwosari sebagai desa yang mandiri dan berdaya dengan memanfaatkan potensi biodiversitas lokal, khususnya tanaman obat keluarga. Kami berharap adanya dukungan dan sinergi dari pemerintah daerah agar program ini berkelanjutan dan memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujar Rifqi, didampingi dosen pendamping PPK, Ginanjar Zukhruf Saputri.
Rifqi menambahkan, program ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga menciptakan model ekonomi produktif berbasis konservasi tanaman obat.
“Kami berupaya mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor,” jelasnya. (*)
| Komitmen UAD Wujudkan Zero Waste Campus, Olah Sampah Plastik dengan Metode Pirolisis |
|
|---|
| Tim MPGV Universitas Ahmad Dahlan Bekali Guru SMK Kompetensi Pembelajaran PBML |
|
|---|
| UAD Kini Miliki 50 Profesor Terbanyak di Lingkungan PTMA, Rektor : Jaga Marwah Akademik |
|
|---|
| Cerita Damkar Evakuasi 12 Mahasiswi UAD Terjebak Lift: Pintu 'Ngelock', Dieksekusi Pakai Spreader |
|
|---|
| UAD Yogyakarta Kukuhkan Empat Guru Besar, Soroti Isu Pendidikan, Media Religi hingga Riset Herbal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kolaborasi-UAD-dan-Kulon-Progo-Wujudkan-Kabupaten-Herbal.jpg)