Viral Kisah Penjual Angkringan di Bantul Fasih Berbahasa Jepang

Viralnya angkringan ini bermula dari seorang mahasiswa Jepang yang datang berkunjung.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
(MG Axel Sabina Rachel Rambing)
Aziz (26) dan Evi (28) penjual angkringan di Panggungharjo, Sewon, Bantul yang sempat viral lantaran bercakap dan melayani pembeli asal Negeri Sakura menggunakan bahasa Jepang yang fasih. 

Suka Duka Sebagai Pendatang di Negeri Sakura

Tinggal di Jepang, seperti diakui Aziz, terasa lebih menyenangkan karena suasananya. Namun, sebagai pendatang, mereka harus menghadapi proses adaptasi yang ketat, terutama soal budaya dan aturan.

Masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi disiplin dan aturan. Kedisiplinan waktu (on time) adalah harga mati. 

Evi dan Aziz bercerita bahwa bahkan ketika membuat janji bertemu teman, mereka sudah akan berada di lokasi 5 hingga 10 menit sebelumnya, lebih memilih menunggu daripada terlambat.

Tantangan terbesar di awal adaptasi adalah aturan memilah sampah. Aturan ini sangat ketat dan berbeda-beda di setiap daerah.

“Di daerah A itu cuma tiga kantong, tapi kalau geser ke daerah B itu pilah sampah bisa sampai tujuh kantong,” jelas Aziz.

Selain itu, Aziz merasakan keterbatasan mobilitas karena di sana ia hanya bisa bersepeda, bukan berkendara dengan kendaraan pribadi. Jika ingin bepergian jauh, ia harus menggunakan transportasi umum. 

Ia justru merasa paling senang jika bisa jalan-jalan dengan teman warga lokal Jepang, sebab mereka memiliki kendaraan pribadi dan sebagai warga lokal, mereka lebih mengetahui tempat-tempat yang bisa dieksplor yang mungkin tidak diketahui para pendatang.

Dalam hal bersosialisasi, Jepang menghadirkan kontras yang unik. Masyarakatnya dikenal sangat individualis, bahkan ikatan antar tetangga terbilang minim. 

Evi memberi contoh dampak dari minimnya interaksi ini, “kadang ada kasus orang meninggal di apartemen baru ketahuan setelah beberapa hari”. 

Ikatan sosial mereka sebagian besar hanya terjalin saat di tempat kerja setelah pulang, hubungan tersebut seolah terputus.

Meskipun demikian, keramahan dan sopan santun adalah hal yang menyeluruh. Dari anak kecil hingga dewasa, mereka selalu menyapa.

Mereka juga bercerita, dalam hal pekerjaan, budaya lembur (overtime) adalah hal yang biasa, meski kini sudah dibatasi. 

“Dulu, waktu lembur bisa mencapai 40 jam sebulan.” singkat Aziz. Bahkan, ada pula istilah Sābisu Zangyō lembur yang tidak dibayar sebagai manifestasi loyalitas tinggi para pekerja. 

Aziz menyampaikan bahwa jam kerja yang gila-gilaan ini sekarang dibatasi sebab banyak pekerja Jepang yang meninggal karena kelelahan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved