Cuaca Ekstrem, Nelayan Gunungkidul Diimbau Waspada Gelombang Tinggi

Menurut Purwono, cuaca ekstrem seperti ini merupakan pola umum pada masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan. 

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
SAR Satlinmas Wilayah I Gunungkidul
Foto dok ilustrasi. Perahu nelayan di Pantai Sadeng, Girisubo, Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  mengimbau nelayan di Kabupaten Gunungkidul  untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gelombang tinggi serta angin kencang berpotensi melanda wilayah perairan selatan DIY seiring masa peralihan musim.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Purwono, mengatakan, sejak awal Oktober cuaca di pesisir selatan cenderung tidak stabil. Gelombang laut kerap meninggi hingga lebih dari dua meter dan disertai angin kencang. 

“Kami mengimbau nelayan agar tidak memaksakan melaut ketika kondisi gelombang dan angin tidak memungkinkan,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).

Menurut Purwono, cuaca ekstrem seperti ini merupakan pola umum pada masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan. 

“Hujan dengan intensitas tinggi sering datang tiba-tiba, bahkan disertai petir dan angin kencang. Kondisi ini berbahaya, terutama bagi nelayan dengan kapal kecil,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat pesisir untuk lebih waspada terhadap kenaikan gelombang tinggi  dan longsor tebing di sekitar area tambatan perahu. 

"Kami sudah meminta tim SAR dan relawan di kawasan pantai seperti Baron, Sadeng, dan Gesing untuk melakukan pemantauan rutin,” tambahnya.

Senada, Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II Gunungkidul, Marjono, meminta 
nelayan untuk memperhatikan prakiraan cuaca sebelum berangkat, termasuk kecepatan angin dan tinggi gelombang. 

“Lebih baik menunda melaut satu dua hari daripada mengambil risiko. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Menurut Marjono, selain berisiko bagi nelayan, kondisi cuaca ekstrem juga dapat memicu rusaknya alat tangkap dan perahu yang tertambat di pinggir pantai.

 “Maka kami imbau nelayan untuk selalu mengamankan perlengkapan melautnya,” ujarnya

Pihaknya juga meminta wisatawan dan masyarakat agar tidak beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai saat kondisi cuaca ekstrem

“Kami harap semua pihak tetap waspada. Cuaca masih fluktuatif hingga awal November mendatang,” pungkasnya (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved