Eksklusif Harga Pangan di DIY

Pemerintah Bilang Stok Telur Masih Aman

Pada September 2025, rata-rata harga telur ayam ras di DIY yaitu Rp28.667 per kg, sedangkan pada minggu kedua Oktober 2025 menjadi Rp31.333 per kg

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
PERMINTAAN TELUR: Produk telur di tempat pelaku usaha telur dan ayam Fathur Broiler di Kapanewon Imogiri, Kamis (13/3/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kebutuhan telur untuk program makan bergizi gratis (MBG) disebut-sebut memantik harga telur naik. 

Namun demikian, itu bukan menjadi satu-satunya pemicu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, mengatakan DIY mengalami kenaikan harga telur yang cukup signifikan. 

Pada September 2025, rata-rata harga telur ayam ras di DIY yaitu Rp28.667 per kilogram, sedangkan pada minggu kedua Oktober 2025 menjadi Rp31.333 per kilogram. 

Tidak hanya DIY, secara nasional harga telur ayam ras di tingkat nasional menunjukkan tren kenaikan bertahap sejak pertengahan September 2025. 

Pada 10 September 2025, harga berada di kisaran Rp31.500 per kilogram, kemudian terus meningkat hingga mencapai sekitar Rp32.400 per kilogram pada 10 Oktober 2025. 

"Harga telur ayam di DIY bergerak searah dengan tren nasional, tetapi masih di bawah harga rata-rata nasional," katanya. 

Ia menerangkan kenaikan harga telur ayam ras terjadi karena tingginya permintaan, termasuk akibat program MBG. Selain itu, dipicu oleh meningkatnya harga pakan. 

"Kalau dari sisi stok aman," imbuhnya.

Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ris Heriyani mengatakan kenaikan harga ini terjadi akibat meningkatnya permintaan dari berbagai sektor, salah satunya dari kebutuhan program pemerintah, yakni MBG yang mulai berjalan di sejumlah sekolah. 

“Permintaan telur naik memang cukup tinggi, itu sejak awal Oktober.  Salah satu faktornya yang mempengaruhi karena ada tambahan kebutuhan dari program pemerintah yaitu MBG. Hal ini berdampak langsung terhadap harga," tuturnya saat dikonfirmasi pada Senin.

Baca juga: Warga Kaget Harga Telur Naik, Ada Apa?

Komoditas lain

Lonjakan permintaan itu kemudian mendorong kenaikan harga sejak dari tingkat produsen, lantar merambat di pasar eceran. 

Selain telur, Ris menyebut sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan harga, mulai dari daging ayam, cabai merah, bawang merah, bawang putih,  hingga tomat. 

"Kenaikan harga komoditas ini juga tidak jauh berbeda karena pengaruh dari permintaan program MBG, terutama ayam yang biasanya Rp36.000 sekarang menjadi Rp40.000," terangnya.

Meski begitu, pihaknya memastikan stok telur di Gunungkidul masih aman. Pihaknya akan memantau distribusi agar tidak terjadi kelangkaan dan menjaga harga tidak terus merangkak naik. 

“Kami akan lakukan pengawasan dan berkoordinasi dengan distributor agar pasar tetap stabil. Yang penting tidak ada panic buying,” tambahnya.

Sementara itu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Yogyakarta, mencatat, harga telur di Pasar Beringharjo bertengger di angka Rp31.000 per kg. 

"Harga telur sudah sejak dua minggu ini memang tinggi, di harga Rp31.000 di Pasar Beringharjo," kata Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Disdag Kota Yogyakarta, Sri Riswanti.

Menurutnya, lonjakan permintaan untuk menunjang program MBG disinyalir menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi harga telur di pasaran. 

"Hal tersebut dipengaruhi peningkatan kebutuhan protein telur dengan dibukanya beberapa titik SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk program MBG," jelasnya.

Selain lonjakan permintaan yang tiba-tiba, Riswanti menyebut, ada faktor lain dari sisi produsen atau hulu yang ikut berkontribusi pada kenaikan harga. 

"Menurut informasi yang kami dapatkan karena ada kenaikan harga jagung sebagai bahan pakan, dan kemungkinan adanya ketidakseimbangan supply dan demand," ujarnya. 

Baca juga: Daftar Lonjakan Harga Telur di Sejumlah Pasar di DIY, Tertinggi hingga Rp31 Ribu Per Kilogram

Ribuan kilo

Kepala Bidang Perdagangan, Disperindag Sleman, Kurnia Astuti, juga menyebut MBG memengaruhi tingginya permintaan telur. 

Nia mengaku belum pernah menghitung total kebutuhan telur ayam untuk MBG di Sleman, karena itu urusan Badan Gizi Nasional (BGN). 

Namun, dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mencapai 62 unit di Sleman, kebutuhan telur ayam dipastikan cukup tinggi. 

Satu dapur SPPG rata-rata memproduksi 3.000-3.500 porsi per hari. 

Jika dalam satu hari seluruh SPPG serentak menggunakan telur ayam, seperti pada Jumat (17/10) kemarin saat momen ulang tahun Presiden Prabowo Subianto disediakan menu nasi goreng dan telur ceplok, maka kebutuhan telur mencapai ribuan kilogram.

Kepala SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo mengungkapkan, kebutuhan bahan pangan yang digunakan di SPPG tergantung menu disajikan. 

Misalnya, satu hari ada menu telur ayam, maka di SPPG yang ia kelola membutuhkan 4.000 butir telur ayam. 

“Jika 1 kilogram telur ayam dirata-rata berjumlah 15 butir, maka kami kurang lebih butuh 307 kilogram telur ayam," ujar dia. 

Joni mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, pihaknya berkolaborasi dengan badan usaha milik kalurahan (bumkal) sebagai supplier, mengambil bahan baku dari peternak lokal di 
Seyegan. 

Ia memastikan, belanja bahan baku dilakukan harian dan selalu mengedepankan kualitas. (Tim)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved