Suhu DI Yogyakarta Tembus 37 Derajat Celcius, BMKG Ungkap Penyebab Panas Ekstrem

Cuaca di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari terakhir terasa begitu menyengat. Sejak pagi hingga malam, hawa panas seolah tak

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
pixabay
Suhu DI Yogyakarta Tembus 37 Derajat Celcius, BMKG Ungkap Penyebab Panas Ekstrem 

TRIBUNJOGJA.COM – Cuaca di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari terakhir terasa begitu menyengat. Sejak pagi hingga malam, hawa panas seolah tak memberi jeda.


Puncaknya terjadi pada Senin, 13 Oktober 2025, ketika suhu udara tercatat mencapai 37 derajat Celsius, menjadikan hari itu sebagai yang terpanas di wilayah Yogyakarta tahun ini.

Fenomena tersebut bukan tanpa sebab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengungkapkan bahwa suhu tinggi ini dipicu oleh kulminasi maksimum, atau yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan.

Fenomena Kulminasi Maksimum: Saat Matahari Tepat di Atas Kepala

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta, Warjono, menjelaskan bahwa fenomena kulminasi maksimum terjadi ketika posisi Matahari berada tepat di atas kepala pengamat.


Pada saat itu, sinar matahari jatuh tegak lurus ke permukaan bumi, sehingga bayangan benda akan tampak “menghilang” karena bertumpuk dengan bendanya sendiri. Akibatnya, intensitas panas meningkat signifikan dibandingkan hari-hari biasa.

“Suhu maksimum harian memang cenderung meningkat saat kulminasi berlangsung. Momen ini menjadi salah satu indikator penting dalam memahami pola cuaca ekstrem di wilayah tropis seperti Yogyakarta,” jelas Warjono.

Menurut BMKG, hari tanpa bayangan merupakan fenomena yang lazim terjadi di wilayah tropis, tepat ketika deklinasi Matahari sejajar dengan lintang geografis suatu tempat.


Karena pergerakan semu Matahari berubah antara 23,5 derajat LU hingga 23,5 derajat LS sepanjang tahun, hari tanpa bayangan hanya terjadi dua kali setahun di setiap daerah tropis.

Untuk Yogyakarta, kulminasi utama tahun ini terjadi pada 27 Februari 2025 dan 13 Oktober 2025, dan akan kembali berulang pada tanggal yang sama di tahun berikutnya.

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG Yogyakarta, suhu udara di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai titik ekstrem pada Senin (13/10/2025). 

Catatan data menunjukkan bahwa seluruh kabupaten dan kota di DIY mengalami peningkatan suhu signifikan, dengan perbedaan yang cukup terasa antarwilayah.

Wilayah Kabupaten Bantul tercatat sebagai daerah dengan suhu paling tinggi, yakni mencapai 37 derajat Celsius. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah selatan Yogyakarta mengalami paparan radiasi matahari paling kuat saat fenomena kulminasi maksimum berlangsung.


Baca juga: BMKG: Prakiraan Cuaca DI Yogyakarta Hari Ini Kamis 16 Oktober 2025

Sementara itu, Kota Yogyakarta menempati posisi kedua dengan suhu 35 derajat Celsius, menandakan bahwa kawasan perkotaan pun tak luput dari dampak panas ekstrem.

Selanjutnya, Kabupaten Sleman mencatat suhu 34 derajat Celsius, diikuti oleh Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, yang suhunya mencapai 33 derajat Celsius. 

Kedua wilayah ini umumnya berada di kawasan yang lebih terbuka dan memiliki karakteristik topografi berbeda, namun tetap merasakan efek serupa dari intensitas radiasi matahari yang tinggi.


Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved