Harga Pertamax Naik
Guru Besar Ilmu Pemerintah UMY Desak Pemerintah Berikan Subsidi BBM Non Industri
Menurut dia, kenaikan Pertamax akan memukul ekonomi masyarakat kelas menengah. Pasalnya, biaya hidup mengalami lonjakan
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Prof. Zuly Qodir meminta pemerintah memberi subsidi BBM non industri setelah harga Pertamax naik.
- Kenaikan BBM dinilai dapat menekan daya beli masyarakat dan menaikkan harga kebutuhan pokok.
- Pemerintah didorong membuat subsidi tepat sasaran serta memperkuat perlindungan sosial.
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag mendesak pemerintah memberikan subsidi BBM non industri. Usulan tersebut menyusul adanya kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 pada Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, kenaikan Pertamax akan memukul ekonomi masyarakat kelas menengah. Pasalnya, biaya hidup mengalami lonjakan, sementara pendapatan cenderung tetap.
Jaga daya beli masyarakat
Dengan adanya subsidi BBM non industri, diharapkan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Ia menyebut kenaikan harga BBM tanpa kompensasi sosial yang kuat akan memicu efek berantai pada kebutuhan rumah tangga. Sektor transportasi dan distribusi logistik menjadi yang paling rentan, sehingga berpotensi menaikkan harga bahan pokok sehari-hari.
"Jika pendapatan masyarakat tetap sementara harga bahan bakar naik, dampaknya akan meluas. Biaya produksi meningkat, harga bahan pokok naik, dan beban ekonomi warga semakin berat," katanya, Kamis (11/6/2026).
Untuk itu, ia mendorong pemerintah merancang skema subsidi BBM yang lebih tepat sasaran. Subsidi tersebut sebaiknya diarahkan khusus untuk sektor non industri.
Adapun kelompok prioritas yang perlu dilindungi ialah pengguna kendaraan roda dua dan pengguna kendaraan pribadi nonmewah yang menjadi sarana mobilitas harian masyarakat.
"Perlu ada kajian kembali mengenai subsidi BBM non-industri. Tujuannya agar kelompok yang paling terdampak tetap mendapatkan energi dengan harga terjangkau,” ungkapnya.
Picu ketidakpuasan
Zuly melanjutkan tekanan ekonomi jangka panjang dapat memicu ketidakpuasan sosial. Risiko ini semakin kompleks karena tidak hanya memukul kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga mengikis daya beli kelas menengah.
Untuk itu, pemerintah wajib menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di pasar. Tak hanya itu, pemerintah perlu memperkuat program perlindungan sosial. Yang tak kalah penting, pemerintah harus memastikan kebijakan ekonomi memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Pemerintah harus bergerak cepat dan tepat, agar ini tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang jujur dan transparan dari pemerintah. Perbedaan antara narasi resmi pejabat dengan fakta yang dirasakan masyarakat di lapangan bisa menurunkan tingkat kepercayaan publik. (maw)
| Harga Pertamax Naik, Penjualan di Pertashop Anjlok |
|
|---|
| Jeritan Driver Ojol di Jogja, Kenaikan Harga Pertamax Picu Antrean Panjang Pertalite di SPBU |
|
|---|
| Warga Khawatir Kenaikan Harga BBM Pertamax Picu Efek Domino Ekonomi |
|
|---|
| Keluh Kesah Driver Ojol di Jogja soal Kenaikan BBM, Kesulitan Cari Pertalite di SPBU |
|
|---|
| Harga Pertamax Melejit, Pemkot Yogya Evaluasi Anggaran BBM dan Lirik Opsi Kendaraan Listrik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ilmu-Pemerintah-UMY-Desak-Pemerintah-Berikan-Subsidi-BBM-Non-Industri.jpg)