62 Kalurahan di Gunungkidul Telah Bertransformasi Jadi Perpustakaan Inklusi Sosial
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti, menyebut transformasi ini menjadi bagian penting dari gerakan literasi untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Sebanyak 62 kalurahan di Kabupaten Gunungkidul kini telah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Perubahan ini menandai pergeseran fungsi perpustakaan dari sekadar ruang baca dan peminjaman buku, menjadi pusat kegiatan masyarakat yang produktif dan inklusif.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gunungkidul, Kisworo, mengungkapkan perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar tempat menyimpan koleksi bacaan, tetapi sudah berkembang menjadi ruang yang hidup dengan beragam aktivitas.
“Kalau perpustakaan hanya untuk baca dan pinjam buku, ke depan akan seperti museum. Maka kita geser value-nya, menjadi pusat kegiatan masyarakat. Di kalurahan-kalurahan kini tumbuh perpustakaan yang hidup dengan aktivitas kewirausahaan, edukasi digital, sampai komunitas senam,” ujarnya, Selasa (23/9/2025).
Ia menjelaskan, masyarakat di berbagai kalurahan sudah aktif memanfaatkan ruang perpustakaan.
Ada kelompok ibu-ibu PKK yang mengolah camilan lokal, anak-anak muda yang membuka bimbingan belajar, hingga komunitas yang mengisi kegiatan seni, olahraga, dan ekonomi kreatif.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa transformasi ini menjadi bagian penting dari gerakan literasi untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
“Perpustakaan kini menjadi ruang belajar sepanjang hayat dan kolaborasi masyarakat. Tahun ini kita patut bangga karena Perpustakaan Melati Kalurahan Patuk lolos mewakili DIY dalam Lomba Perpustakaan Kalurahan Terbaik Nasional,” kata Endah.
Menurutnya, literasi tidak bisa hanya digerakkan pemerintah, tetapi juga keluarga, sekolah, komunitas, hingga pelaku usaha.
“Saya percaya dengan gotong royong, kita bisa wujudkan Gunungkidul sebagai Kabupaten Literasi yang berdaya saing dan sejahtera,” tegasnya.
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional, Adin Bondar, menambahkan bahwa literasi memiliki efek berlapis terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan ekonomi.
Ia menekankan bahwa literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis, hingga mencipta.
“Negara dengan budaya baca kuat terbukti lebih sejahtera. Karena itu budaya literasi harus ditanamkan sejak dini, bahkan sejak 1.000 hari pertama kehidupan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Adin juga menyampaikan bahwa Perpustakaan Nasional terus mendukung penguatan literasi di daerah, termasuk di Gunungkidul.
Dukungan itu antara lain berupa tiga unit mobil perpustakaan keliling, pojok baca digital, hingga 101 ribu buku bacaan untuk desa-desa.
“Perpustakaan hadir demi martabat bangsa, dan transformasi berbasis inklusi sosial adalah jalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata,” tutupnya. (*)
| Tingkatkan Kompetensi ASN, Dinas Perpustakaan Sleman Optimalkan Pengelolaan Arsip Terjaga |
|
|---|
| Sultan Minta Pemkab Gunungkidul Kembangkan Kawasan Utara dan Timur, Jangan Fokus di Pesisir Selatan |
|
|---|
| Pesan Sri Sultan HB X saat Menghadiri Silaturahmi Idulfitri Bersama Masyarakat Gunungkidul |
|
|---|
| Kasus Kematian Akibat Leptospirosis di Gunungkidul Naik 500 Persen di Awal 2026 Ini |
|
|---|
| El Nino Mengancam, Kerentanan Lahan Pertanian di Gunungkidul Jadi Atensi Utama DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Festival-Literasi-2025-di-Gunungkidul.jpg)