Mengangkat Seni Campursari agar Mendunia Lewat Festival Nasional di Gunungkidul
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan festival nasional Campursari tidak sekadar menjadi panggung musik
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Festival Nasional Campursari 2025 digelar di Auditorium Taman Budaya Gunungkidul, mulai 11- hingga 13 September 2025. Sebanyak 30 peserta kesenian campursari dari berbagai daerah di Indonesia ikut memeriahkan panggung kesenian yang didanai oleh dana keistimewaan (Danais) DIY.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan festival nasional Campursari tidak sekadar menjadi panggung musik, melainkan upaya serius untuk melestarikan sekaligus mengangkat seni campursari ke tingkat nasional hingga internasional.
"Campursari yang berakar kuat dari Gunungkidul, dan diperkenalkan secara luas oleh maestro Manthous. Ini identitas budaya asli Gunungkidul yang harus dilestarikan dan dikenalkan lebih luas, tidak hanya hanya di nasional tetapi juga internasional," ujarnya usai kegiatan tersebut, Jumat (12/9/2025).
Dia menilai festival ini sebagai momentum penting untuk memperkuat posisi campursari sebagai warisan budaya yang tidak hanya hidup di tengah masyarakat lokal, tetapi juga mampu bersaing dan diterima di panggung yang lebih luas.
Bahkan, pihaknya tengah memproses untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI) agar campursari benar-benar tercatat sebagai genre musik khas Gunungkidul.
"Saat ini tengah berproses agar campursari bisa dipatenkan," tuturnya.
Menurutnya, campursari berpotensi untuk memperkenalkan budaya Jawa ke kancah internasional. Apalagi, banyak dispora Jawa yang tinggal berbagai negara suka mendengarkan lagu Campursari.
"Saat menerima kunjungan komunitas diaspora Jawa beberapa waktu lalu, campursari mendapat sambutan positif. Kia bisa mengenalkan budaya Jawa ke mancanegara. Jadi, tidak hanya lagu-lagu Barat yang bisa memengaruhi, tetapi campursari juga bisa menjadi identitas budaya yang membanggakan,” tandasnya.
Sementara itu, salah seorang peserta, Surono selaku ketua Paguyuban Campursari Madu Laras Sleman sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai festival ini memberikan ruang penting bagi para seniman campursari untuk menampilkan karya mereka di hadapan publik yang lebih luas.
“Kami sangat mengapresiasi adanya festival ini, karena memberi kesempatan kepada para seniman campursari untuk tampil. Harapannya, melalui kegiatan ini campursari semakin dikenal tidak hanya di kalangan orang tua, tetapi juga generasi muda. Jangan sampai campursari hanya identik dengan orang tua, padahal nilai seninya bisa dinikmati semua kalangan,” ungkapnya (ndg)
| Disebut Punya Potensi Besar, PSI DIY Bidik Gunungkidul Jadi Lumbung Suara di Pemilu 2029 |
|
|---|
| Tak Cuma Touring, Ratusan Biker Muslim Ini Kumpul di Ponpes Darush Sholihin Gunungkidul Sambil Ngaji |
|
|---|
| Detik-detik Menegangkan Penyelamatan Ibu dan Anak yang Terseret Ombak di Pantai Sundak Gunungkidul |
|
|---|
| Gempur Rokok Ilegal, Tim Gabungan Sita 6.375 Bungkus Rokok Tanpa Cukai di Gunungkidul |
|
|---|
| Kekeringan Mengintai, Belum Masuk Musim Kemarau, Pak Lurah Giripurwo Sudah Beli 2 Tangki Air Bersih |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mengangkat-Seni-Campursari-agar-Mendunia-Lewat-Festival-Nasional-di-Gunungkidul.jpg)