Reaksi Orang Tua di Bantul soal Maraknya Keracunan MBG: Pemerintah Kurang Profesional

Selama ini pelaksanaannya terkesan kurang profesional. Sebaiknya, tetap dilaksanakan, tetapi supervisi dilakukan secara ketat dan rutin

KOMPAS.COM/DANI JULIUS
KERACUNAN MBG LAGI: Foto dok ilustrasi. Salah satu ruang guru di SMP Muhammadiyah 2 Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, penuh siswa mengeluh seperti mual, muntah, dan diare sejak Rabu (30/7/2025) malam. Kasus keracunan MBG kembali terjadi di DIY, kali ini di Berbah Sleman pada Rabu (27/8/2025).  

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah orang tua di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengomentari kejadian keracunan menu makan siang bergizi gratis (MBG) yang terjadi di beberapa wilayah Tanah Air, termasuk di Kabupaten Sleman.

Masyarakat berharap agar pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan makanan yang didustribusikan kepada anak sekolah.

Sebab, mereka khawatir jika menu MBG itu tidak dicek dengan baik akan berimbas pada banyak korban keracunan

Salah satu orang tua dari Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, Jono (44), mengaku khawatir kasus keracunan dari MBG dapat menjamur di wilayah lain. Sebab, belakangan ini, kasus keracunan makanan dijumpai di berbagai daerah.

"Sebenarnya saya mendukung program Pak Presiden Prabowo soal MBG itu. Tapi, saya harap, pemerintah juga melakukan pengawasan yang ketat saat proses pemilihan bahan dasar, proses masak, hingga pendistribusian," katanya kepada Tribunjogja.com, Kamis (28/8/2025).

Diberitakan sebelumnya, kasus keracunan MBG terbaru terjadi di Berbah Sleman, Rabu (27/8/2025). 

Kali ini menimpa siswa dan guru SMP Negeri 3 Berbah. Mereka keracunan diduga setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jumlah korban bergejala berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan tercatat ada 137 orang. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, dr Khamidah Yuliati, menyampaikan berdasarkan laporan yang diterima hingga pukul 12.50 WIB, dugaan keracunan pangan yang terjadi di SMPN 3 Berbah.

Jumlah yang bergejala keracunan ada 137 orang, dari total 380 orang yang mengonsumsi menu makanan.

Adapun mereka yang bergejala 135 adalah siswa dan 2 orang guru. Korban bergejala langsung mendapatkan penanganan medis. 

Respons orang tua di Bantul

Merespons dugaan keracunan MBG tersebut, orang tua di Bantul berharap seluruh proses pembuatan dan pendistribusian MBG harus berjalan dengan mengutamakan higienis yang tinggi. 

Sebab, ia menilai bahwa kasus keracunan makanan, biasa terjadi dikarenakan ada kontaminasi bakteri dari makanan yang akan didustribusikan. 

"Ya saya pengennya, pemerintah ketika memberikan suatu program itu berjalan dengan matang. Artinya, sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya itu benar-benar handal di bidangnya. Jadi, tidak ada lagi yang namanya keracunan makanan," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved