Kisah Pilu Ibu Asal Bantul Terjerat Bank Plecit
Lantaran tak punya uang, dan mengaku tak tahu cara meminjam uang ke bank, ia terpaksa meminjam uang ke rentenir
Penulis: Santo Ari | Editor: Hendy Kurniawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fenomena rentenir atau biasa disebut bank plecit masih banyak ditemukan di DIY. Bukannya menolong masyarakat kecil, justru banyak yang menjadi korban lantaran tercekik bunga pinjaman yang besar.
Hal itu diungkapkan dalam program acara JogjA-Bicara dari RBTV bekerjasama dengan Tribun Jogja yang membahas fenomena Bank Plecit. Salah satu korbannya yakni narasumber program Jogja Bicara, seorang ibu rumah tangga, yang merupakan warga Sedayu, Bantul. Mengaku saat ini ia harus kucing-kucingan dengan pihak bank plecit karena harus menanggung dua anaknya setelah berpisah dengan sang suami
Ia menceritakan, delapan tahun lalu, ia harus menyekolahkan anak pertamnaya untuk masuk ke jenjang pendidikan SMP. Lantaran tak punya uang, dan mengaku tak tahu cara meminjam uang ke bank, ia terpaksa meminjam uang ke rentenir sebanyak Rp5 juta. Sampai saat ini ia tak dapat mengembalikan uang tersebut karena bunga besar yang mencekiknya.
"Dari Rp5 juta yang dulu saya pinjam, sampai sekarang belum lunas, malah nambah terus utangnya. Bank plecit ini tidak ada jangka waktunya, dan karena itu tiap hari saya harus membayar bunganya," ujarnya.
Ia menceritakan, setiap hari ia harus membayar bunga sebesar Rp25 ribu di luar uang yang ia pinjam. "Bang plecit itu mudah dicari, syaratnya meminjam uang juga tidak ribet. Kalau bank harus ngurus ini itu," ujarnya saat ditanya apa alasan ia meminjam ke bank plecit.
Saat ini hutangnya yang semakin membesar membuat dia harus bersembunyi dari dunia luar. Ibu rumah tangga yang mempunyai toko klontong ini terpaksa tidak berjualan di tokonya sendiri. "Kalau di toko pasti ditagih, saya sembunyi di rumah. Gara-gara bank plecit hidup jadi enggak tenang, bangun tidur mikir hutang, tidur juga mikir hutang," tukasnya.
Bagaimana tidak, ia harus diuber-uber debt collector, dan kadang memperoleh perlakuan kasar lantaran tak membayar hutang. "Ya kalau di hitung-hitung, dari delapan tahun ini saya sudah bayar puluhan juta," ujarnya. (*)