Cara Unik Komunitas Sepeda Onthel Yogyakara Peringati HUT RI ke 80
Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok), Muntowil mengatakan sudah sejak tahun 2006 komunitas tersebut konsisten
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Iwan Al Khasni
Komunitas Onthel Gelar Upacara Dengan Sepeda dan Pakaian Pejuang
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Beragam cara unik dilakukan oleh masyarakat untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke 80.
Salah satunya dilakukan oleh para pecinta sepeda tua di Yogyakarta.
Tidak hanya membawa sepeda tua kesayangannya, mereka juga mengenakan pakaian perjuangan.
Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok), Muntowil mengatakan sudah sejak tahun 2006 komunitas tersebut konsisten melaksanakan upacara, meskipun tempatnya berubah-ubah. Pasalnya Yogyakarta kaya akan tempat bersejarah yang perlu dikunjungi.
“Ini adalah upacara bendera kesekian kalinya, termasuk hari ini untuk memperingati HUT RI ke-80. Sejak 2006 upacara dengan bersepeda, tempatnya berpindah-pindah. Karena Yogyakarta memang banyak tempat heroik, Yogyakarta kaya akan tempat-tempat yang perlu dikunjungi,” katanya, Minggu (17/08/2025).
Menurut dia, sepeda juga memiliki peran penting dalam masa perjuangan. Sepeda menjadi transportasi untuk mengirimkan dokumen-dokumen penting serta logistik ke berbagai daerah. Tidak hanya itu, sepeda juga berperan dalam operasi intelijen.
“Sepeda punya peran penting, sepeda tidak bersuara, menjadi intelijen, bisa menembus semua lini. Ada sepeda yang untuk terjun, untuk menerobos jalan, sepeda sangat luwes,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua Komoenitas Onthelis Djadoel Jogjakarta (Kodja), Jhon Oyok mengungkapkan tidak hanya membawa onthel kesayangan, ia dan anggota komunitas Kodja juga memakai pakaian pejuang. Pakaian pejuang yang dikenakan karena Yogyakarta juga punya peran penting dalam kemerdekaan.
“Seragam pejuang ini karena Jogja merupakan kota pejuang dan kota sepeda. Dan pakaian pejuang ini menjadi pakaian wajib untuk acara resmi (yang diikuti Kodja),” ungkapnya.
Untuk pakaian pejuang, anggotanya sengaja membuat sendiri dengan dana pribadi. Namun ada pula pakaian warisan dari leluhur, yang digunakan saat ikut memperjuangkan kemerdekaan RI. Pun, sepeda yang digunakan adalah sepeda lawas mulai dari tahun 1930an hingga 1960an.
Bersepeda tidak hanya menjadi cara unik untuk memeriahkan HUT RI ke-80, tetapi juga untuk mengampanyekan gaya hidup sehat kepada masyarakat, sekaligus mengurangi polusi udara.
Setelah upacara, berbagai komunitas pecinta sepeda lawas tersebut melanjutkan dengan berkeliling Kota Yogyakarta. (maw)
Baca juga: Remisi Kemerdekaan, Ada Narapidana Lapas Wonosari Gunungkidul Langsung Bebas
| Teriakan Massa Aksi Rakyat Memanggil di Bawah Guyuran Hujan |
|
|---|
| Massa Aksi Rakyat Memanggil Bertahan di Tengah Hujan Deras, Arus Lalu Lintas Dialihkan |
|
|---|
| Didominasi Pakaian Serba Hitam, Masa Aksi Aliansi Rakyat Memanggil Mulai Padati Pertigaan Colombo |
|
|---|
| Aksi 'Rakyat Memanggil' di Pertigaan Gejayan Digelar Siang Ini, Kritisi Pemborosan Anggaran dan MBG |
|
|---|
| Telkomsel Tegaskan Komitmen Percepat Transformasi Digital Indonesia di Usia ke-31 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Komunitas-pecinta-sepeda-menggelar-upacara-HUT-RI-ke-80.jpg)