Mahasiswa-Santri Ini Buktikan Bisa Mendunia, Kini Raih Beasiswa Studi ke Jepang

Ulin baru saja mengukir prestasi membanggakan meraih beasiswa Japanese Studies Non-Degree 2025–2026 dari Pemerintah Jepang

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
ist
BEASISWA KE JEPANG : Ulin Nuha Syahnarendra (paling kiri) saat seleksi di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta mewakili mahasiswa Prodi Bahasa Jepang Sekolah Vokasi UGM 

TRIBUNJOGJA.COM – Menjadi santri sekaligus mahasiswa tentu bukan perkara mudah.

Namun bagi Ulin Nuha Syahnarendra, dua peran itu justru saling melengkapi dan menjadi kekuatan tersendiri. 

Ia adalah mahasiswa Program Studi Bahasa Jepang Sekolah Vokasi UGM.

Selain itu, ia juga merupakan santri Pondok Pesantren Pelajar dan Mahasiswa (PPPM) Baitussalam Yogyakarta.

Ulin baru saja mengukir prestasi membanggakan meraih beasiswa Japanese Studies Non-Degree 2025–2026 dari Pemerintah Jepang.

Ulin akan menjalani studi selama satu tahun di Kyoto University of Education melalui program bergengsi yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho/MEXT).

Baca juga: Keberlanjutan Kehidupan Bumi Hingga Teknologi 5.0 Jadi Fokus ISU Para Periset ICoSI dan ICCS UMY

Beasiswa ini ditujukan untuk mahasiswa aktif jenjang D4 atau S1 jurusan Bahasa atau Sastra Jepang dari berbagai negara, dan proses seleksinya tergolong sangat ketat.

“Saya ingin menunjukkan bahwa kehidupan di pesantren bukanlah hambatan untuk menggapai prestasi. Justru di sana saya banyak belajar tentang kedisiplinan dan manajemen waktu,” ujar Ulin.

Dari Panggung Kompetisi ke Negeri Sakura

Kesuksesan Ulin tak datang secara instan.

Sejak masih duduk di bangku sekolah, ia sudah aktif mengikuti berbagai lomba Bahasa Jepang di tingkat daerah maupun nasional. Kiprahnya di dunia kompetisi dimulai sejak 2019 dan terus konsisten hingga 2024.

Di antara pencapaiannya, Ulin pernah menyabet juara dalam ajang lomba membaca naskah Jepang (roudoku), presentasi, voice acting, hingga pidato Bahasa Jepang tingkat nasional.

Ia pernah menjadi finalis di Universitas Andalas, juara dalam lomba di Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Diponegoro, serta tampil sebagai peraih podium utama di berbagai festival Jepang antaruniversitas di Indonesia.

Bahkan, salah satu pencapaiannya yang cukup membanggakan adalah ketika berhasil menjadi juara pertama dalam lomba pidato Bahasa Jepang nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro pada November 2024.

Total, ia telah mengumpulkan lebih dari selusin prestasi berskala nasional, yang kemudian menjadi bekal penting saat mengikuti seleksi beasiswa MEXT.

Seleksi Ketat, Perjalanan Panjang

Perjalanan menjadi awardee MEXT tidaklah singkat. Prosesnya dimulai sejak Januari, melalui serangkaian tahap seleksi yang diadakan oleh Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Mulai dari seleksi dokumen, ujian tulis, hingga wawancara langsung di Jakarta.

Setelah lolos seleksi nasional, para kandidat disaring lagi oleh tim MEXT di Tokyo, sebelum akhirnya diumumkan secara resmi pada bulan Agustus.

“Prosesnya sekitar delapan bulan. Saya harus menunggu sambil tetap mempersiapkan mental dan fisik, karena semua bisa berubah kapan saja. Tapi dari proses itulah saya belajar bahwa kesabaran dan konsistensi sangat penting,” kata Ulin.

Sebagai alumni SMA Negeri 7 Yogyakarta dan putra dari Atus Syahbudin dan Jumiati, Ulin kini tengah bersiap untuk berangkat ke Jepang.

Ia tidak hanya membawa misi akademik, tetapi juga harapan agar lebih banyak generasi muda Indonesia khususnya dari latar belakang pesantren, berani bermimpi besar.

“Saya berharap teman-teman muda tidak ragu untuk berprestasi, baik di dalam maupun luar negeri. Dunia terbuka lebar untuk mereka yang mau belajar, berusaha, dan berdoa,” ungkapnya.

Ulin meyakini bahwa santri bukan hanya penjaga nilai, tetapi juga penggerak perubahan masa depan.

Ia ingin menjadi bagian dari generasi Indonesia Emas 2045, generasi yang unggul dalam pengetahuan global namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai spiritual dan kebangsaan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved