Proyek Tol di Sleman Gerus 169,3 Hektare Sawah
Berdasarkan data, rencana pembangunan jalan bebas hambatan di Sleman itu mengorbankan 169,37 hektare lahan sawah.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pembangunan jalan tol yang melintas di wilayah Kabupaten Sleman, bukan hanya menggusur pemukiman, melainkan juga menggerus lahan pertanian di Bumi Sembada.
Berdasarkan data, rencana pembangunan jalan bebas hambatan itu mengorbankan 169,37 hektare lahan sawah.
Adapun rinciannya, lahan sawah yang terdampak jalan tol Solo - Jogja yang dibangun hingga Yogyakarta Internasional Airport (YIA) sebesar 136,42 Hektare.
Sedangkan pembangunan jalan tol Jogja -Bawen menggerus lahan sawah di Sleman seluas 32,95 Hektare.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan luas lahan pertanian di Sleman berdasarkan data tahun 2023 seluas 1.837 hektare. Angka tersebut didapat dari metode perhitungan kasar.
Pada tahun 2024, Kementerian Pertanian bersama Kementerian ATR/BPN telah mengeluarkan data luas lahan baku sawah di Sleman tinggal 15.918 hektare..
"Saya yakin (ada pengurangan) termasuk karena itu (tergerus jalan tol). Selain juga karena ada pengalihan untuk pemukiman ya," kata dia, Rabu (30/7/2025).
Menjaga luas lahan baku sawah di Sleman, kata Rofiq, selama ini terus diupayakan. Apalagi Kabupaten Sleman telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2020 yang mengatur Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Menurut Rofiq, upaya menjaga lahan baku sawah tidak cukup lewat Perda. Tetapi juga dengan merangkul para pemangku wilayah seperti Dukuh dan Lurah.
"Karena apapun, izinnya kan ke pemangku wilayah. Nah ketahanan pangan tidak mampu diupayakan tanpa dukungan kemitraan dari pemangku wilayah, dari Pak dukuh maupun Pak lurah. Jadi mereka ikut saling mengerem. Bukan untuk mempersulit perizinan ya, tapi kalau itu lahan hijau ya jangan terus diupayakan untuk digeser geser. Kan biasanya seperti itu," kata dia.
Rofiq bilang, ketahanan pangan membutuhkan keberpihakan. Karena itu peran pimpinan wilayah juga sangat penting.
"Kebutuhan pangan dan investasi harus seiring sejalan. Slemam butuh pertumbuhan ekonomi, dan biasanya investasi membutuhkan lahan, maka kami upayakan agar balance, seimbang,"katanya.
Kondisi lahan persawahan yang kian tergerus, menjadi permasalahan tersendiri bagi program ketahanan pangan. Di satu sisi, produktivitas pertanian didorong untuk terus digenjot. Namun di lain sisi keran investasi untuk pertumbuhan ekonomi wilayah yang kerapkali mengorbankan lahan tetap dibuka.
Menurut Rofiq, upaya menggenjot produktivitas pertanian dilakukan dengan memberikan pelatihan- pelatihan bagi kelompok tani. Kemudian mendorong penanaman varietas yang teruji mampu meningkatkan produktivitas. Upaya menggenjot produksi juga didukung dengan pemberian bantuan alsintan.
Melalui skema itu, menurut Rofiq produktivitas beras di Kabupaten Sleman sejauh ini masih cukup terjaga. Ia menyebut, rata-rata produktivitas gabah di angka 170 ribu- 175 ribu ton per tahun. Sedangkan angka konsumsi di Kabupaten Sleman dengan jumlah penduduk 1,2 - 1,3 juta rata-rata menghabiskan 75 ribu ton beras per tahun.
"Jadi saya pastikan mungkin 5 tahun ke depan kita masih aman untuk ketersediaan beras. Karena masih surplus. Produksi beras di Sleman rata-rata surplus 55-60 ribu ton per tahun," kata dia.(*)
| Inspirasi Kata-Kata Tahun Baru 2026: Penuh Harapan dan Semangat Baru |
|
|---|
| Bangkit dari Cedera Panjang, Wakil Kapten PSS Sleman Fachruddin Hadir di Waktu yang Tepat |
|
|---|
| 9 Bulan Menepi karena Cedera ACL, Fachruddin Bahagia Tampil Kembali untuk PSS Sleman |
|
|---|
| Kasus Dugaan Korupsi BUKP Tempel Sleman: Kerugian Negara Rp3,1 Miliar |
|
|---|
| Kasus Dugaan Korupsi di BUKP Tempel Sleman, Kerugian Diperkirakan Miliaran Rupiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tol-Yogyakarta-Solo-di-Wilayah-Kalasan-Sleman-Ditarget-Berfungsi-Saat-Lebaran.jpg)