Berita Magelang

Melihat Pernikahan Sepasang Tembakau di Lereng Sumbing Windusari Magelang

gunungan hasil bumi dan alunan gamelan, sepasang pengantin tembakau diarak menuju Sendang Piwakan, mata air suci di lereng Gunung Sumbing.

Tayang:
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com/ Yuwantoro Winduajie
PERNIKAHAN TEMBAKAU: Prosesi pernikahan sepasang tembakau di Dusun Gopaan, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (29/7/2025) pagi 

Dia melanjutkan, perayaan ini selalu digelar pada hari Selasa Pahing di bulan Safar. Jika dalam kalender tahun itu tak ada Selasa Pahing di bulan Safar, maka digeser ke bulan Sura.

“(Digeser ke bulan Sura) ya nggak apa-apa, tapi lebih baiknya di bulan Safar,” imbuhnya.

Sugitno yang juga petani tembakau ini mengatakan, usia tanaman tembakau yang ditanam petani tahun ini baru berusia tiga bulan. 

Petani memang menunda penanaman karena gudang pabrik belum mulai membeli. Ditambah lagi adanya permasalahan iklim yang tak menentu. 

Sugitno menyebutkan bahwa tahun lalu hasil panen tak terlalu menggembirakan. Namun demikian, warga tetap menggelar ritual sebagai wujud rasa syukur.

“Harapannya (hasil panen) mudah-mudahan baik bisa lancar bagi petani. Prihatin sekali untuk petani tembakau (masih sering hujan),” tuturnya lagi.

Email 2021 Diplomat Kemenlu Terlilit Lakban Ungkap Pesan Keinginan Akhiri Hidup

Lebih Meriah dari Lebaran

Seusai ritual di sendang, iring-iringan gunungan hasil bumi dibawa kembali ke dusun. Gunungan itu kemudian didoakan kembali dan diperebutkan warga. Tapi bukan hanya itu, kemeriahan terus berlangsung hingga malam.

Di Dusun Gopaan, dua panggung kesenian didirikan. Satu untuk pementasan wayang kulit semalam suntuk, satunya lagi untuk kesenian tradisional seperti jatilan, brondut, dan warokan. 

Pada momen tersebut, masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka lebar-lebar, menyambut siapapun tamu yang ingin berkunjung. 

Di setiap ruang tamu tersaji beragam hidangan, dari makanan berat hingga camilan tradisional. 

Siapa saja yang melintas diajak singgah, dipersilakan duduk dan menikmati suguhan dengan hangatnya keramahan warga di sana.

“Ini sudah tradisi, tiap Selasa Pahing. Bukan hanya saudara, teman, nggak tahu siapa (datang). Kalau dengan Lebaran, ya ramai ini. Tiap rumah menyediakan (makanan) full,” ujar Pupung Slamet (55), warga Gopaan.

Kata dia, tamu yang datang belum boleh pulang sebelum mencicipi sajian yang telah disiapkan tuan rumah.

Pahingan di kampungnya, kata dia, memang lebih semarak ketimbang hari raya keagamaan lainnya seperti Idul Fitri.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved