Berita Magelang

Melihat Pernikahan Sepasang Tembakau di Lereng Sumbing Windusari Magelang

gunungan hasil bumi dan alunan gamelan, sepasang pengantin tembakau diarak menuju Sendang Piwakan, mata air suci di lereng Gunung Sumbing.

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com/ Yuwantoro Winduajie
PERNIKAHAN TEMBAKAU: Prosesi pernikahan sepasang tembakau di Dusun Gopaan, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (29/7/2025) pagi 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Diiringi gunungan hasil bumi dan alunan gamelan, sepasang "pengantin” tembakau diarak menuju Sendang Piwakan, mata air suci di lereng Gunung Sumbing

Layaknya prosesi pernikahan adat, keduanya dipertemukan dalam sebuah ritual yang disaksikan ratusan warga. Bedanya, kedua mempelai bukan manusia, melainkan tanaman tembakau, yang satu jantan, yang lain betina.

Suasana Dusun Gopaan, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah memang terasa lebih semarak sejak Selasa (29/7/2025). 

Warga berbondong-bondong membawa hasil bumi menuju Sendang Piwakan, sumber mata air yang disakralkan. 

Hari itu, tepat pada Selasa Pahing di bulan Safar, memang menjadi puncak kemeriahan tahunan bagi masyarakat di lereng Gunung Sumbing. Pada momen itu pula digelar prosesi pernikahan tembakau.

Tradisi turun-temurun ini digelar sebagai bentuk syukur atas hasil panen tembakau serta doa agar musim berikutnya membawa berkah lebih baik. 

Rangkaian prosesi dimulai sejak pagi. Warga mengarak gunungan hasil bumi berbentuk dan gunungan menyusuri jalan setapak menuju sendang. 

Di belakangnya, dua tanaman tembakau yang dipersonifikasi sebagai tembakau laki-laki dan tembakau perempuan turut diarak layaknya pasangan pengantin.  

Warga menyebut pasangan tembakau itu Kyai Pulung Seto untuk pengantin laki-laki dan Nyai Srinthil untuk pengantin perempuan.

Setibanya di Sendang Piwakan, pasangan pengantin itu disambut dengan tarian prosesi potong tembakau. Doa yang dipanjatkan, menandai bahwa pernikahan telah berlangsung. 

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan tanaman tembakau asli, prosesi pernikahan kali ini menggunakan tembakau tiruan.

Meski demikian, prosesi itu pun tetap menarik perhatian masyarakat yang datang menyaksikan.

“Perkawinan tembakau itu nguri-uri bibit tembakau biar lancar terus. Soalnya tembakau (hasil panen) ekonomi yang paling baik masyarakat di sini,” kata Sugitno, Kepala Dusun Gopaan, di sela-sela prosesi.

Menurutnya, sebagian besar warga Dusun Gopaan menggantungkan hidup sebagai petani dan perajang daun tembakau. Dari komoditas inilah roda kehidupan di dusun itu terus berputar. 

“Kalau tembakau itu lancar, petani yang tidak bangun rumah jadi bisa membangun. Yang tidak (menikah) jadi menikah. Hasil tembakau bisa (mensejahterakan) masyarakat semuanya,” sambungnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved