Kata Pakar Energi UGM Soal Impor Energi dari Amerika Serikat

Menurut Pakar Energi UGM, Tumiran, sampai saat ini Indonesia memang masih impor minyak secara besar-besaran.

The Indian Wire
ILUSTRASI - Ekspor impor 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indonesia bakal mengimpor senilai 10-15 miliar US Dollar atau sekitar Rp244 triliun dari Amerika Serikat (AS).

Menurut Pakar Energi UGM, Tumiran, sampai saat ini Indonesia memang masih impor minyak secara besar-besaran.

Pengalihan impor ke Amerika dari negara lain mestinya tidak memengaruhi devisa.

"Yang penting volume impor jangan meningkat. Yang perlu di cermati, bahwa impor tersebut harganya tetap kompetitif dan tidak menyebabkan kenaikan harga minyak domestik, syukur syukur bisa turun," katanya, Selasa (22/07/2025).

Tarif impor 19 persen yang dikenakan ke Indonesia diharapkan dapat meningkatkan ekspor. 

"Tetapi non tarif impor produk AS jangan sampai menghancurkan industri menengah kita (Indonesia). Produk- produk yang bukan advance teknologi kita jangan sampai tidak dapat tumbuh," sambungnya.

Ia menilai swasembada energi, memang harus segera dilakukan. Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor BBM dapat berkurang. 

Baca juga: Tribun Jogja dan PUSPAR UGM Bersinergi, Fokus Edukasi Pariwisata Berkelanjutan

Direktur Engineering Research and Innovation Centre (ERIC) FT UGM itu menyebut lifting minyak harus diupayakan naik.

Menurutnya, jangan konseptual secara bau, namun harus ada target ril, serta tersistem.

Pelaku usaha juga perlu diberi peran yang jelas dan perlindungan hukum terhadap pengambil keputusan harus ada.

Perlindungan hukum ini penting karena untuk menaikkan lifting minyak punya risiko besar investasi. karena ekplorasi mengandung risiko berhasil dan gagal. 

"Selain itu upaya percepatan pergerakan EBT (Energi Baru Terbarukan )harus dipercepat. Terutama pergeseran pemanfaatan LPG untuk rumah tangga, segera mungkin digeser dengan berpindah ke listrik. Percepatan EBT ke listrik lebih mudah dari pada mengganti BBM," ujarnya.

Transformasi EBT di sektor transportasi juga harus dilakukan.

Caranya dengan skenario yang mendorong penciptaan lapangan kerja, penguatan industri domestik, dan penguasaan teknologi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved