Puluhan SD di Kota Magelang Kekurangan Siswa Baru, Ada yang Hanya Menerima 4 Siswa

Kepala SDN Rejowinangun Utara 3, Biatrik Ratna Milasari mengatakan, selama dua tahun berturut-turut, sekolahnya hanya memperoleh empat siswa baru.

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Yoseph Hary W
Dok. Freepik via kompasiana
ILUSTRASI - Sekolah Gratis 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Sebanyak 30 Sekolah Dasar (SD), baik negeri maupun swasta, di Kota Magelang mengalami kekurangan siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026. 

Salah satunya adalah SDN Rejowinangun Utara 3, yang hanya memperoleh empat siswa baru.

Diketahui, Kota Magelang memiliki tiga kecamatan dengan total 75 SD, yang terdiri dari 59 SD Negeri dan 16 SD Swasta. 

Dari jumlah tersebut, 30 sekolah dilaporkan kekurangan siswa baru.

Kepala SDN Rejowinangun Utara 3, Biatrik Ratna Milasari mengatakan, selama dua tahun berturut-turut, sekolahnya hanya memperoleh empat siswa baru.

“Untuk MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) tahun ini, sebenarnya tidak berbeda dengan tahun sebelumnya (tahun ajaran 2024/2025). Jadi, 2 tahun berturut-turut, kami hanya memperoleh 4 siswa. Termasuk tahun ini,” kata Kepala SDN Rejowinangun Utara 3, Biatrik Ratna Milasari di ruang kerjanya, Jumat (18/7/2025).

Sekolah yang berada di kawasan padat penduduk Paten Jurang, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah ini, telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat calon siswa.

Salah satunya dengan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler.

“Kami sudah melakukan upaya perubahan dari tahun karena sebelumnya nggak ada ekstrakurikuler,” sambung Mila.

Namun demikian, upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan. 

Salah satu faktor yang diidentifikasi adalah lokasi sekolah yang berdekatan dengan sejumlah SD lainnya.

“Cuma dampaknya ternyata belum signifikan untuk peningkatan jumlah murid. Analisis kami jelas lokasi sini (berdekatan dengan sekolah lain), Rejowinangun Utara 4, SDN Tidar 6 dan Rejowinangun Utara 2. Jaraknya nggak sampai 300 meter sudah RU 1 (Rejowinangun Utara 1), RU 6, yang paling jauh RU 5 daerah Nambangan,” imbuhnya.

Selain faktor geografis, sekolah juga menghadapi tantangan dari persepsi masyarakat yang cenderung memandang negatif terhadap sekolah tersebut.

“Saya tidak tahu dulu riwayatnya bagaimana. Tapi, ketika masuk (pindah) dari wali murid (sekolah sebelumnya banyak dari sekitar sini). Jadi, ada labeling negatif, cuma saya tidak tahu riwayatnya bagaimana,” tambah dia.

“Anak-anak yang masuk sini secara finansial bukan lagi menengah, di bawah garis. Profesi orangtua, ada pengamen, ART dan lain sebagainya,” sambungnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved