Cara Warga Yogyakarta Atasi Fenomena Bediding yang Dirasakan dalam Beberapa Hari Terakhir

Bukan hanya di pelosok desa, fenomena bediding turut dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di tengah Kota Yogyakarta.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
dok.istimewa
ILUSTRASI - Suhu udara dingin 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena  suhu udara dingin atau dikenal dengan istilah bediding mulai dirasakan oleh sejumlah warga di Yogyakarta.

Bukan hanya di pelosok desa, fenomena bediding turut dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di tengah Kota Yogyakarta.

Salah satu warga Sayidan, Gondomanan, Kota Yogyakarta bernama Giarto, mengatakan suhu udara di kampungnya terasa dingin sejak akhir Juni lalu.

Bahkan dirasakannya akhir-akhir ini suhu udara di kampungnya justru bertambah dingin.

"Sekarang malah tambah dingin, mulai awal Juli lalu. Kalau orang dulu bilang bediding," katanya, saat diwawancara, Jumat (11/7/2025).

Dia mengaku suhu udara dingin mulai terasa ketika sore, malam hingga pagi hari.

Untuk mengatasi rasa dingin itu, Giarto mengaku sering minum kopi untuk menghangatkan tubuh.

"Ya, kalau malam minum kopi sambil bercanda sama istri biar gak terasa dingin," ujarnya.

Warga lain bernama Agung Prakoso juga merasakan suhu udara dingin dari hari-hari biasanya.

Dia mengaku sudah menyiapkan sejumlah antisipasi agar tubuh tetap fit ditengah fenomena alam yang satu ini.

"Dingin banget, terutama malam sampai pagi. Tapi saya selalu sedia vitamin dan obat-obatan biar gak tumbang. Soalnya cuaca gak menentu kayak gini, panas tapi terasa dingin," pungkasnya. 

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas, mengatakan fenomena udara yang sangat dingin atau dalam bahasa Jawa disebut bediding ini masih akan terjadi hingga Agustus mendatang. 

"Suhu terdingin akan terjadi pada bulan Juli sampai Agustus saat berada di puncak musim kemarau," katanya, Jumat (11/7/2025)

Reni mengatakan, terjadinya bediding ini disebabkan adanya pergerakan massa udara dari Australia yang membawa massa udara yang kering dan dingin melintasi wilayah Indonesia atau yang biasa disebut Monsun dingin Australia. 

Di sisi lain, kandungan air di dalam tanah menipis, kandungan uap di udara juga rendah yang dibuktikan dengan rendahnya tingkat kelembapan udara. 

Hal lain yang menudukung terjadinya bediding yakni tutupan awan relatif sedikit dan pantulan panas dari bumi yang diterima dari matahari tidak tertahan oleh awan. 

 “Tetapi terlepas dan langsung hilang ke atas," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved