Curhat Nelayan Sadeng Gunungkidul Minta Pemerintah Didirikan SPBN

Ketua Kelompok Nelayan Sadeng, Sarpan mengatakan ketersediaan SPBN akan sangat bermanfaat bagi operasional nelayan di sini.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Nanda Sagita Ginting
NELAYAN: Penampakan kapal yang bersandar di dermaga Sadeng, pada Rabu (9/7/2025) kemarin 

Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Nelayan di Pantai Sadeng, Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, berharap pemerintah bisa memfasilitasi penyediaan stasiun pengisian bahan bakar minyak untuk nelayan (SPBN).

Ketua Kelompok Nelayan Sadeng, Sarpan mengatakan ketersediaan SPBN akan sangat bermanfaat bagi operasional nelayan di sini.

Pasalnya, untuk mendapatkan solar subsidi atau bio solar, para nelayan harus mendapatkan dari penyalur atau pihak ketiga.

"Saat ini, solar subsidi atau bio solar dibeli nelayan dari penyalur. Padahal, kebutuhannya sangat tinggi sekali," tuturnya saat dikonfirmasi pada Kamis (10/7/2025).

Dia menjelaskan kebutuhan rata-rata bahan bakar untuk satu unit kapal berukuran besar sekitar 90 GT ( Gross Tonnage) setiap kali berangkat,  diperkirakan mencapai 2.500 liter solar. 

Sedangkan,  untuk kapal ukuran 30 GT atau dikenal sekoci rata-rata sekitar 350 liter solar per keberangkatan. 

"Kami mohon agar pemerintah bisa mendirikan SPBN di sini," ucapnya.

Sementara itu, saat ditanya harga bio solar yang didapat nelayan dari penyalur, Sarpan enggan menyebut dengan jelas harganya.

"Kurang tahu harganya kalau sekarang untuk bio solar. Saya soalnya pakai pertalite kalau di sini harga pertalite Rp11.000 perliter sesuai ketentuan maksimal," ucap dia.

Lebih jauh,  Sarpan menuturkan dulunya SPBN pernah didirikan di kawasan Pantai Sadeng, pada awal tahun 1990 an. Namun, karena saat itu jumlah nelayan masih sedikit membuat permintaan BBM tidak tinggi. Hingga, akhirnya SPBN pun ditutup pada 2002 silam.

"Kalau sekarang kan, nelayan lebih banyak sudah seharusnya SPBN didirikan di sini," ucapnya.

Menanggapi curhatan para nelayan tersebut, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi menuturkan sebenarnya sudah mengusulkan pembangunan SPBN di wilayah Pantai Sadeng, melalui kampung nelayan merah putih. 

"Sudah kami usulkan juga, hanya ketika minggu lalu desk usulan proposal ternyata wujudnya hanya sampai penyiapan lahan, belum berwujud stasiun pengisian bahan bakar nelayan seperti yang dibayangkan. Ke depan ini akan berprosesnya," terangnya. 

Dia mengklaim, ketersediaan BBM solar subsidi atau Bio Solar untuk nelayan di Pantai Sandeng, masih sangat mencukupi. Saat ini penyalurannya diharga Rp6.800/ liter ditambah Rp1.000 untuk  biaya transport di Sadeng.

Di mana, ada dua penyalur BBM Bio Solar untuk nelayan di Sadeng, yakni Sub Penyalur atas nama Badan Usaha Milik Kalurahan Pucung. 

"Kuotanya itu 28.800 liter namun realisasinya baru separuhnya yang terserap, jadi kalau harga solar mahal dimungkinkan karena nelayan menggunakan solar non subsidi seperti dexlite yang saat ini harganya Rp 13.320 perliter," tandasnya (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved