Gara-gara Kebijakan Donald Trump, Harga iPhone Bisa Tembus Rp58 juta 

Salah satu dampak yang paling menonjol adalah potensi kenaikan harga iPhone, produk unggulan Apple yang sangat digemari di berbagai belahan dunia.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Apple
ILUSTRASI : Gara-gara Kebijakan Donald Trump, Harga iPhone Bisa Tembus Rp58 juta  

TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump kembali menggebrak sektor perdagangan internasional dengan kebijakan tarif impor baru.

Langkah ini diambil untuk mendorong relokasi industri manufaktur kembali ke dalam negeri.

Pemerintah AS berharap kebijakan ini mampu menghidupkan sektor industri domestik, menciptakan jutaan lapangan kerja baru, dan mengurangi ketergantungan terhadap produksi luar negeri, terutama dari Tiongkok.

Namun di balik ambisi besar tersebut, sejumlah analis memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat membawa konsekuensi serius, terutama bagi konsumen produk teknologi global.

Salah satu dampak yang paling menonjol adalah potensi kenaikan harga iPhone, produk unggulan Apple yang sangat digemari di berbagai belahan dunia.

Menurut laporan eksklusif dari CNN, jika Apple benar-benar memindahkan seluruh lini produksi iPhone ke Amerika Serikat, harga perangkat ini bisa melonjak hingga mencapai US$3.500 atau sekitar Rp58 juta per unit.

Saat ini, harga iPhone berkisar di angka US$1.000 atau sekitar Rp16 juta, tergantung pada model dan spesifikasinya.

Baca juga: VIRAL Dugaan Eksploitasi Pemain Sirkus OCI Taman Safari, Pelanggaran HAM Sejak Era 70-an

Kenaikan harga tersebut disebabkan oleh biaya produksi yang jauh lebih tinggi di AS, termasuk upah tenaga kerja yang mahal, pembangunan pabrik baru, logistik domestik yang kompleks, serta pembentukan ulang rantai pasokan yang telah dibangun selama puluhan tahun di Asia.

Selama ini, Apple sangat bergantung pada jaringan rantai pasok global yang terpusat di kawasan Asia.

Komponen penting seperti chipset diproduksi di Taiwan, layar berasal dari Korea Selatan, kamera dan sensor dikembangkan di Jepang dan Tiongkok, sedangkan proses perakitan akhir dilakukan di pabrik Foxconn yang berlokasi di Tiongkok. 

Struktur pasokan ini memungkinkan Apple menjaga efisiensi biaya produksi dan mempertahankan margin keuntungan yang tinggi.

Relokasi produksi ke Amerika Serikat tidak hanya akan mengganggu stabilitas rantai pasok, tetapi juga menuntut investasi besar-besaran.

Untuk memindahkan hanya 10 persen dari kapasitas produksi iPhone, Apple diperkirakan harus menggelontorkan dana hingga US$30 miliar dan memerlukan waktu lebih dari tiga tahun.

Ini tentu menjadi tantangan besar, baik dari sisi logistik, efisiensi, maupun finansial.

Bahkan jika Apple tidak secara penuh memindahkan produksinya ke AS, kebijakan tarif impor yang lebih tinggi tetap akan memberikan tekanan pada struktur biaya perusahaan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved