Pasrah, Warga Imogiri Bantul Anggap Banjir Kali Celeng Jadi "Kado Indah" Jelang Lebaran

Pranuju mengatakan banjir luapan Kali Celeng setidaknya terjadi setiap 5 tahun sekali.

Tayang:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
SURUT : Pranuju menunjukkan bekas batas air banjir yang menerjang rumahnya di Padukuhan Tilaman, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Bantul, Jumat (28/03/2025) malam lalu. Banjir disebabkan oleh luapan Kali Celeng akibat hujan deras semalaman. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan warga di Padukuhan Tilaman, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Bantul terdampak banjir luapan Kali Celeng pada Jumat (28/03/2025) malam. Rumah mereka pun sempat terendam banjir hingga ketinggian 1,5 meter.

Pranuju (47), warga setempat air banjir mulai masuk ke rumah saat ia sedang bersiap buka puasa dengan istri dan kedua anaknya.

Saat air semakin tinggi, ia dan keluarga pun memutuskan untuk menyelamatkan barang-barang berharga.

"2 motor sama pakaian saya selamatkan dulu, tapi kami memilih bertahan di rumah karena airnya saat itu cukup tinggi," jelasnya ditemui pada Sabtu (29/03/2025).

Menurut Pranuju, banjir bertahan setidaknya hampir selama sejam, lalu mulai surut.

 Saat hendak membersihkan rumah dari lumpur yang dibawa banjir, listrik justru padam membuatnya tak bisa beraktivitas hingga dini hari.

Aktivitas bersih-bersih baru bisa dilakukan Sabtu pagi hari, begitu juga dengan warga lainnya. Mereka pun mendapat bantuan dari relawan yang mempercepat proses pembersihan.

"Untungnya tidak ada kerugian materi, paling hanya perlu servis motor saja karena terkena air," ujar Pranuju.

Ia sendiri sudah terbiasa dengan banjir luapan Kali Celeng, lantaran sudah menetap di sana sejak tahun 1991. Apalagi posisi rumahnya juga tidak jauh dari aliran sungai.

Baca juga: Jalan di Depan Rumah Sudah Seperti Sungai, Kini Warga Imogiri Bantul Bersih-Bersih Dampak Banjir

Pranuju mengatakan banjir luapan Kali Celeng setidaknya terjadi setiap 5 tahun sekali. Adapun yang terparah terjadi pada 2017 lalu, di mana saat itu terdapat korban meninggal dunia.

Apesnya, banjir terjadi beberapa hari jelang Hari Raya Idulfitri alias Lebaran.

Namun ia tetap mengambil hikmah dari kejadian tersebut, apalagi untungnya tidak separah tahun-tahun sebelumnya.

"Anggap saja ini kado terindah dari Tuhan menjelang Lebaran, sebagai pengingat dan penguji keimanan," kata Pranuju.

Wahyu (57), yang rumahnya berjarak hanya 20 meter dari tepi Kali Celeng juga merasakan dampak dari banjir tersebut.

Puluhan tanaman sereh miliknya kini rebah, begitu juga dengan pohon alpukatnya roboh akibat diterjang arus deras luapan kali.

Padahal, ia sudah berencana hendak memanen sereh miliknya tersebut sebagai tambahan penghasilan. Rencananya sereh akan dia panen usai Lebaran.

"Saya bilang sama istri mau panennya setelah Lebaran saja, eh malah kejadian seperti ini," kata Wahyu yang sudah menetap di situ sejak tahun 1998.

Meski begitu ia sudah memahami risiko tinggal di dekat sungai, apalagi bukan sekali ini saja banjir terjadi. Bahkan ia menilai banjir kemarin masih cukup wajar walau tetap menimbulkan kerusakan.

Wahyu pun yakin ia tetap bisa memanen sereh yang sudah ditanamnya. Meski ia tidak tahu bagaimana kualitas hasil panennya setelah terkena banjir.

"Ya tidak apa-apa lah mungkin memang belum rezekinya, siapa tahu nanti ditambah rezekinya, yang jelas saya harus tetap berusaha dan semangat," ujarnya.(alx)
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved