Seminar

Seminar Serangan Umum 1 Maret : Menelaah Histori Peristiwa dan Peranan Persandian

Seminar Serangan Oemom 1 Maret ini mengambil tema pembahasan mengenai peranan persandian dalam mendukung serangan oemoem 1 Maret 1949.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Dok. Pribadi
SERANGAN UMUM : Seminar Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Museum Sandi Selasa (11/03/2025) 

TRIBUNJOGJA.COM – Museum Sandi Yogyakarta menggelar Seminar Serangan Oemoem 1 Maret Dalam Perspektif Menegakkan Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa pada Selasa (11/03/2025).

Seminar Serangan Oemom 1 Maret ini mengambil tema pembahasan mengenai peranan persandian dalam mendukung serangan oemoem 1 Maret 1949.

Seminar ini diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang histori Serangan Umum 1 Maret 1949 dan peranan persandian dalam membantu menjaga kerahasiaan informasi dalam perang.

Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber yang relevan untuk menjelaskan dari berbagai perspektif, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret.

Seminar dibuka dengan sambutan dari Ketua Yayasan Citra Bangsa Mayjen TNI Prn Lukman R Boer dan sambutan kedua oleh Walikota Yogyakarta dr Hasto Wardoyo, Sp. OG(K).

Narasumber yang pertama adalah Setya Budi Prabowo, S.ST yang merupakan kepala Museum Sandi.

Setya menjelaskan tentang peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret dalam perspektif kerahasiaan informasi yang dilakukan saat peristiwa tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, Setya menjabarkan tentang makna dari janur kuning yang merupakan simbol yang digunakan oleh Soeharto dan pasukan sebagai tanda bahwa kelompok tersebut merupakan kelompok pro Republik Indonesia.

Kemudian narasumber kedua adalah Letkol Caj Drs. Jeni Akmal.

Jeni memaparkan histori peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Mulai dari kronologi peristiwa Serangan Oemom 1 Maret 1949 dengan menambahkan alasan-alasan logis di balik peristiwa tersebut.

“Makanya itu adanya, dan tujuannya itu (Aktivitas Serangan Oeomoem 1 Maret) adalah perang opini, publik opini, dan kantor opini. Itu tujuan yang sebetulnya” jelasnya.

Narasumber ketiga adalah Dr. Muhammad Iqbal Birsyada yang merupakan Ka Prodi Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta.

Iqbal membawakan materi yang lebih menyorot kepada  keterkaitan antara narasi sejarah dan persandian dengan pendidikan dalam konteks guru-guru kelas.

Dalam penjelasannya, Iqbal menekankan bahwa pentingnya pendidikan sejarah bagi para pelajar.

Selain itu, Iqbal juga mengaitkan fenomena saat ini yang realitasnya para pelajar kurang melek akan sejarah Indonesia.

“Ini juga menjadi harapan sejarawan, bagaimana mengajarkan itu (sejarah) kepada mahasiswa dan peserta didik” Jelas Dr. Muhammad Iqbal Birsyada dalam sesi penjabaran materinya.

( MG Kofifah Tiara Pramuditha )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved