Melihat Satu-satunya Tempat Pembuatan Papan Selancar di Kabupaten Bantul

Ia adalah satu-satunya orang yang berprofesi sebagai pembuat surfboard atau papan selancar di Kabupaten Bantul.

TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
PAPAN SELANCAR: Pemilik Usaha Hauw Surfboard, Bima Sepiawan (28), sedang membuat papan selancar di tempat usahanya yang berada di Mancingan 11, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (25/2/2025) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Laki-laki bertopi merah dengan kaus putih terlihat sibuk mengutak-ngatik styrofoam di suatu tempat dekat Pantai Parangtritis, tepatnya di Mancingan 11, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (25/2/2025) siang.

Laki-laki itu bernama Bima Sepiawan, asal Kabupaten Bantul. Ia adalah satu-satunya orang yang berprofesi sebagai pembuat surfboard atau papan selancar di Kabupaten Bantul.

Selain memproduksi, ia juga menerima jasa perbaikan.

Bima menceritakan, bahwa Styrofoam yang ia pegang merupakan bahan utama untuk membuat papan selancar.

PAPAN SELANCAR: Pemilik Usaha Hauw Surfboard, Bima Sepiawan (28), sedang membuat papan selancar di tempat usahanya yang berada di Mancingan 11, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (25/2/2025) siang.
PAPAN SELANCAR: Pemilik Usaha Hauw Surfboard, Bima Sepiawan (28), sedang membuat papan selancar di tempat usahanya yang berada di Mancingan 11, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (25/2/2025) siang. (TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana)

Ia menceritakan bahwa dirinya telah menekuni profesi membuat dan memperbaiki papan selancar itu sejak 2022. 

Profesi dan usaha itu ia beri nama Hauw Surfboard. Usaha itu bahkan telah melahirkan banyak papan selancar untuk para konsumen dari berbagai daerah.

"Saya bisa gini, karena sebelumnya saya pernah kerja di tempat pembuat papan selancar di Bali," ucapnya saat ditemui di Hauw Surfboard, Mancingan 11, Kalurahan Parangtritis.

Menurut kisahnya, jauh sebelum itu yakni sekitar tahun 2012, Bima sebenarnya telah berkecimpung di bidang olahraga surfing. 

Seiring berjalannya waktu, Bima kerap bertemu dengan para perajin papan selancar. Ia kemudian mendapatkan tawaran dari salah satu perajin papan selancar di Bali.

Bima lantas bekerja sebagai salah satu karyawan perajin papan selancar tersebut. Selama lima tahun ia menekuni profesi itu di Bali. 

Namun, dikarenakan ada satu dan lain hal, akhirnya Bima memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mencoba membuka usaha serupa di selatan Bumi Projotamansari.

Laki-laki usia 28 tahun ini mengaku bahwa menekuni usaha papan selancar tidak lah mudah, seperti halnya saat menyelesaikan bagian pembuatan shaping and glassing di papan selancar, yang menjadi tantangan sendiri.

Shaping menjadi tonggak utama pembuatan papan selancar dan glassing menjadi bagian penyesuaian permintaan warna yang dikerjakan dengan proses teliti dan hati-hati.

"Terus ada sisi kerapian. Itu juga enggak mudah. Karena harus dicek rata tidak dan sebagainya. Jadi butuh ketelitian dan kehati-hatian juga," kata Bima.

Walau demikian, ia tetap menikmati dan menekuni profesi tersebut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved