Cuaca Ekstrem di DIY, Status Siaga Darurat Hidrometeorologi Diprediksi Berlanjut hingga Mei
Kondisi ini mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengusulkan perpanjangan status Siaga Darurat Hidrometeorologi hingga Maret 2025.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM- Cuaca ekstrem yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus memicu dampak serius, termasuk kerusakan infrastruktur hingga menelan korban jiwa.
Kondisi ini mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengusulkan perpanjangan status Siaga Darurat Hidrometeorologi hingga Maret 2025.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad, mengungkapkan usulan perpanjangan tersebut telah diajukan kepada Gubernur DIY.
“Baru saya usulkan untuk perpanjangan ke Gubernur DIY. Penetapan status siaga darurat dilakukan per bulan, dan jika situasi masih belum memungkinkan, status ini akan terus diperpanjang,” jelas Noviar saat dikonfirmasi, Senin (27/1/2025).
Langkah perpanjangan ini didasarkan pada prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan peringatan dini BMKG, cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung hingga Mei 2025.
Berdasarkan data BPBD DIY periode 20–26 Januari 2025, wilayah DIY mengalami berbagai bencana, mulai dari cuaca ekstrem, tanah longsor, hingga banjir.
Dalam kurun waktu tersebut, tercatat sebanyak sembilan kejadian cuaca ekstrem, dengan dampak terparah berupa kerusakan infrastruktur dan satu korban jiwa.
Gunungkidul menjadi wilayah dengan kejadian tanah longsor terbanyak, yakni enam kejadian. Diikuti Kulon Progo dengan lima kejadian, sementara Kota Yogyakarta mencatat satu kejadian tanah longsor.
Sementara itu, satu kejadian banjir terjadi di Kabupaten Bantul.
“Kami sudah memberikan bantuan berupa makanan, terpal, dan selimut kepada warga terdampak. Selain itu, BPBD juga mendistribusikan alat kebencanaan seperti cangkul, angkong, dan gergaji mesin,” ungkap Noviar.
Salah satu kejadian yang menyita perhatian adalah ambrolnya bendungan dan talud di Srandakan, Bantul, pada Minggu (26/1).
BPBD DIY mencatat kerusakan pada bendungan sepanjang 160 meter dengan lebar 35 meter.
Talud yang ambrol memiliki lebar 5 meter, tinggi 10 meter, dan panjang 25 meter.
“Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan kerusakan akan meluas dan berpotensi memengaruhi konstruksi Jembatan Srandakan,” ujar Noviar.
Saat ini, lokasi kerusakan telah disurvei oleh Kementerian PUPR.
Langkah awal yang dilakukan adalah pemasangan garis polisi untuk mencegah warga mendekat.
Ke depan, bendungan tersebut akan segera dibangun kembali untuk menghindari risiko lebih besar.
Di antara lima kabupaten dan satu kota di DIY, hanya Kulon Progo yang menerapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi.
Namun, BPBD DIY masih menunggu keputusan lebih lanjut apakah status tersebut akan diperpanjang atau diturunkan menjadi siaga pada Februari mendatang.
Melihat prakiraan cuaca ekstrem yang terus berlangsung, masyarakat DIY diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pemerintah DIY juga diharapkan mempercepat langkah-langkah mitigasi agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan.
| Prakiraan Cuaca Wilayah DIY Selasa 28 April 2026, Ini Daftar Wilayah yang Diguyur Hujan Hari Ini |
|
|---|
| Suhu Ekstrem saat Pancaroba Ancam Produksi Pangan Nasional, Padi dan Jagung Paling Rentan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Wilayah DIY Selasa 21 April 2026, Hujan Lebat Guyur Sleman, GK dan Kulon Progo |
|
|---|
| Cuaca Ekstrem Terjang Sleman: Talud Longsor dan Infrastruktur di 6 Kapanewon Rusak |
|
|---|
| Gelombang Rossby Ekuatorial Pengaruhi Intensitas Hujan di DIY, Ini Penjelasan BMKG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-hujan.jpg)