Rencana Penataan Alkid dan Plengkung Gading, Pedagang Berharap Tetap Terayomi

Ia menegaskan dukungannya terhadap rencana tersebut, namun berharap agar pemerintah dan Keraton tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Suasana di sekitar Plengkung Gading pada Rabu (22/1/2025) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM - Rencana penataan kawasan Alun-alun Selatan (Alkid) dan Utara serta penutupan Plengkung Gading belakangan menjadi sorotan.

Meski wacana ini sudah bergulir sejak lima tahun lalu, hingga kini para pedagang belum mendapatkan informasi detail terkait bentuk maupun teknis pelaksanaannya. 

Ketua Umum Paguyuban Pelaku Pariwisata Alun-alun Selatan (Paparasi), Heru Susanto, menyebutkan bahwa wacana tersebut baru ramai diperbincangkan kembali melalui media sosial belakangan ini. 

"Teman-teman sudah tahu dari lima tahun ke belakang ada wacana ini, tapi belakangan ramai lagi di media sosial," kata Heru. 

Ia menjelaskan, ramainya pembahasan di media sosial memicu banyak pertanyaan dari anggota paguyuban mengenai teknis penataan yang direncanakan. 

Menurut Heru, informasi mengenai rencana penataan tersebut diperoleh melalui camat yang menjadi perwakilan dari Keraton Yogyakarta.

Namun, masterplan dan teknis pelaksanaan masih belum disampaikan secara rinci. 

"Pak camat menyampaikan kepada saya soal ini, tapi detailnya bagaimana, masterplannya seperti apa, kita belum tahu," jelasnya. 

Heru juga mengungkapkan bahwa penataan kawasan Alun-alun dan penutupan Plengkung Gading berkaitan dengan upaya pelestarian Sumbu Filosofi Yogyakarta, kawasan tersebut akan difungsikan kembali sebagai cagar budaya. 

Ia menegaskan dukungannya terhadap rencana tersebut, namun berharap agar pemerintah dan Keraton tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat, khususnya pedagang dan pelaku wisata yang selama ini menggantungkan penghidupan di kawasan tersebut. 

"Kalau saya dengar baru tahap uji coba. Kalau berhasil, mungkin diteruskan. Kalau belum, bisa direvisi dan diuji lagi. Yang penting, ketika ditata, warga dan pedagang di sini tetap terayomi," ujarnya.  

Heru juga menekankan pentingnya dialog antara Keraton dengan masyarakat yang terdampak kebijakan ini. 

"Heritage itu penting untuk dilestarikan, tapi masyarakat juga harus tetap diperhatikan," imbuhnya. 

Heru mengingatkan bahwa secara historis, akses masuk ke kompleks Keraton Yogyakarta di masa lalu hanya terbuka dari sisi barat melalui Taman Sari (Pasar Ngasem) dan sisi timur melalui Jalan Brigjen Katamso. Sedangkan akses di sisi utara ditutup dengan regol. 

"Kalau mengikuti sejarah dulu, utara memang ditutup. Yang terbuka hanya akses dari barat dan timur," tuturnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved