Penutupan Plengkung Gading

Wacana Penutupan Plengkung Gading, Dinas Kebudayaan DIY Tunggu Arahan

Ia menyatakan bahwa dirinya belum mendapatkan informasi valid mengenai rencana penutupan Plengkung Gading.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dian Lakshmi Pratiwi. 

TRIBUNJOGJA.COM - Wacana penutupan Plengkung Gading, yang juga dikenal sebagai Plengkung Nirbaya, mencuat di tengah masyarakat.

Sebagai salah satu gerbang utama yang mengelilingi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Plengkung Gading memiliki nilai sejarah dan filosofi yang tinggi.

Gerbang ini juga merupakan satu-satunya akses masuk ke dalam Benteng Baluwerti dari sisi selatan.

Plengkung Gading mendapatkan namanya karena lokasinya berada di Jalan Gading.

Dari seluruh gerbang yang ada di Yogyakarta, hanya Plengkung Tarunasura di kawasan Wijilan dan Plengkung Nirbaya yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Bentuk melengkung pada gerbang ini dikenal dengan istilah “plengkung,” yang menjadi ciri khasnya.

Gerbang ini memiliki fungsi unik dalam tradisi Kraton Yogyakarta.

Berdasarkan adat, Sultan yang masih hidup tidak diperkenankan melewati Plengkung Gading.

Gerbang ini baru digunakan ketika Sultan wafat, untuk mengantar jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir di Pajimatan Imogiri.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dian Lakshmi Pratiwi, memberikan tanggapannya terkait wacana ini.

Ia menyatakan bahwa dirinya belum mendapatkan informasi valid mengenai rencana penutupan Plengkung Gading.

"Iya, nanti saja kalau saya sudah mendapatkan informasi yang valid. Sejauh yang saya pahami, benteng itu memang ada bagian yang seharusnya tertutup. Kalau pelengkung, itu kan memang tempat untuk keluar-masuk. Ada beberapa titik pelengkung dan juga bastion. Jadi, untuk bagian-bagian yang memang seharusnya terbuka, ya tetap dibuka. Setahu saya begitu," ujar Dian.

Namun, Dian juga menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai wacana penutupan ini berada di tangan pihak Kraton, terutama Ngarsa Dalem atau Sultan.

"Kalau saya pribadi, informasi valid itu harus dari Ngarsa Dalem. Selama saya belum mendapat arahan atau informasi yang jelas, ya bagi saya itu belum pasti," tambahnya.

Ketika ditanya apakah penutupan ini akan dilakukan dalam waktu dekat, Dian mengaku belum memiliki informasi yang pasti.

"Jujur saja, saya belum dengar. Saya juga belum tahu pasti soal itu," pungkasnya. (HAN)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved