DLH Bantul Lakukan Koordinasi Antisipasi Peningkatan Sampah

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul terus melakukan koordinasi bersama sejumlah stakeholde

Tayang:
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
Pelajar SD Negeri Semen di Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo saat menikmati makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (13/01/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul terus melakukan koordinasi bersama sejumlah stakeholder untuk antisipasi peningkatan sampah limbah makan bergizi gratis (MBG). 

Kepala DLH Bantul, Bambang Purwadi Nugroho, mengatakan, selain melakukan koordinasi lintas stakeholder, pihaknya juga melakukan persiapan alat pengolahan sampah yang ada di sejumlah tempat pengoalahan sampah.


"Kemudian, opsi lain, ya nanti kami mengoptimalkan program sekolah adiwiyata ini untuk bisa menyelesaikan sampah yang ada di sekolah.

"Mungkin tidak 100 persen sampah itu bisa terselesaikan di sana, tapi dengan sekolah adiwiyata itu sangat membantu mengurai beban sampah," katanya, Minggu (19/1/2025).


Namun, sejauh ini, Bambang menyebut, ada beberapa sekolah di Bumi Projotamansari yang masih belum siap optimal dalam menggerakkan sekolah adiwiyata.

Maka dari itu, ke depan, DLH Bantul akan mendorong setiap sekolah untuk bersama-sama mengoptimalkan program itu.


"Dan nanti kami akan mengoptimalkan sekolah adwiyata yang memungkinkan bisa menangani sampah sisa MBG. Karena kan pengolahan sampah itu bersangkutan dengan lahan, kesiapan stakeholder di sekolah, dan sebagainya," ucap Bambang.


Di sisi lain, pihaknya mengaku belum bisa memperkirakan jumlah peningkatan sampah saat program MBG tersebut berjalan di Bumi Projotamansari.

Namun demikian, dari hasil sementara diperkirakan, jumlah sampah dari sisa program MBG bisa bertambah 10 persen lebih dari sampah yang ada pada saat ini.


"Untuk angka pastinya, kami masih dalam proses mapping dulu. Kan ini masih proses di awal. Dan untuk kepastian angka atau akuntabilitas angka itu juga harus liat proses di lapangan. Kan teman-teman baru memetakan," ucap Bambang.


Lalu, potensi sampah yang banyak dari program tersebut adalah sampah organik.

Pasalnya, jenis produk yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak adalah makanan yang berimbang. 


Sedangkan, sampah an organik dimungkinkan tidak sebanyak sampah organik tersebut.

Sebab, program unggulan Presiden Kedelapan RI itu akan diterapkan dengan tempat makan yang tidak sekali pakai.


"Maka, kami dorong sekolah-sekolah untuk berpartisipatif menggerakkan sekolah adiwiyata, supaya sampah organik dan an organik bisa diselesaikan di sekolah juga," tutup Bambang yang juga merupakan mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Bantul.(nei)
 

--

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved