Sepekan Program Makan Bergizi Gratis di Magelang, Pengelola Kantin Turun Omzet Hingga 60 Persen

Program makan bergizi gratis membawa dampak bagi para pengelola kantin sekolah, termasuk Choirun (44), pengelola kantin SD Negeri Jurangombo 4.

Tribun Jogja/ Yuwantoro Winduajie
Choirun (44), pengelola kantin SD Negeri Jurangombo 4 bersama istrinya 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto telah berjalan selama satu pekan di Kabupaten dan Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. 

Namun, pelaksanaan program ini membawa dampak bagi para pengelola kantin sekolah, termasuk Choirun (44), pengelola kantin SD Negeri Jurangombo 4.

Choirun merasakan adanya penurunan omzet hingga 50-60 persen sejak program MBG digulirkan. 

"Kalau saat normal pendapatan kotor bisa mencapai Rp450 ribu-Rp500 ribu per hari, sekarang hanya sekitar Rp250 ribu, bahkan kadang kurang," ujarnya, Selasa (14/1/2025).

Choirun yang telah menjalankan kantin selama 10 tahun juga mengaku bahwa dalam sepekan terakhir, pendapatan kotornya tidak mencapai Rp 1 juta.

Selain itu, beberapa orangtua murid dan tetangga yang biasanya menitipkan makanan di kantinnya, seperti nasi ayam dan nasi kuning ke kantin juga mengalami penurunan jumlah pesanan. 

Bahkan, ada beberapa yang sementara ini libur menitipkan makanan.

"Dulu ada titipan 25 bungkus nasi ayam, sekarang hanya 7 bungkus dan kadang tidak habis," tambah Choirun.

Baca juga: Kisah Aipda Ridha, Pak Bhabin Polres Magelang Kota Kenalkan Tari Tradisional pada Generasi Muda

Meski demikian, Choirun tetap menyesuaikan diri dengan program pemerintah ini. 

"Kita harus menyesuaikan. Dari segi pengeluaran, kita juga berhemat," katanya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Jurangombo 4, Cicilia Martina Susanti, mengakui bahwa program MBG berdampak pada penurunan omzet kantin

"Istirahat pertama biasanya anak-anak membeli makanan berat. Namun, sejak ada program ini, mereka hanya membeli jajanan ringan karena sudah sarapan dan makan siang disediakan," jelasnya.

Disinggung terkait pelaksanaan program MBG di sekolahnya, menurutnya telah berjalan dengan baik selama enam hari terakhir.

Terlebih menu yang disajikan juga tergolong bervariasi.

Namun dia menekankan jika MBG ini fungsinya sebagai pendamping makanan, bukan pengganti makanan pokok.

Sehingga diharapkan anak-anak tetap sarapan di rumah sebelum mendapatkan tambahan gizi di sekolah melalui program ini.

"Kami bersyukur mendapat kesempatan pertama, terutama untuk anak-anak. Tujuan makan bergizi ini kan sebagai pendamping sarapan. Harapannya, anak-anak tetap sarapan di rumah, kemudian di sekolah mendapat tambahan gizi," ungkapnya. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved