Mengenal Sunnah-Sunnah Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

Artikel berikut membahas mengenai sunnah-sunnah dalam dalam kehidupan sehari-hari.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Pinterest
Ilustrasi anak-anak mengucapkan salam 

TRIBUNJOGJA.COM - Salam merupakan salah satu bentuk ibadah yang sederhana namun memiliki keutamaan besar dalam Islam.

Selain menjadi tanda penghormatan dan doa, sunnah dalam memberi salam juga memiliki adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Baca juga: Kekhususan Shalat Sunah Fajar dalam Berbagai Sisi

Artikel berikut mengulas beberapa sunah yang berkaitan dengan salam, pertemuan dan majelis, berikut penjelasannya:

1. Mengucapkan salam ketika bertemu

Menebarkan salam merupakan sunnah, bahkan jika melaksanakannya maka akan dijanjikan padanya keutamaan yang besar.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, 

لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ

“Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim:54)

2. Mengulang salam tiga kali jika diperlukan

Jika kita ragu akan orang yang disalami mendengar ucapan salam kita yang pertama, disunnahkan untuk mengulang salam dua kali, dan jika ia tetap tidak mendengar, maka hendaknya diulang menjadi tiga kali.

Ketika kita bertemu sekelompok orang, seperti dalam majelis yang padanya berkumpul banyak orang, terkadang ucapan salam satu kali saat datang hanya akan didengar oleh orang yang dekat.

Oleh karena itu, kita perlu mengucapkan tiga kali salam agar dapat dipastikan bahwa orang yang dalam majelis tersebut mendengar.

Dari Anas, menceritakan kebiasaan Nabi,

أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا

"Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali.(HR Bukhari: 93)"

3. Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak

Dari Abdullah bin Amr bahwasannya terdapat seorang lelaki bertanya kepada Nabi, “Islam apakah yang paling baik?”

Beliau bersabda, 

تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari: 11, Muslim : 56)

Adapun mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenal, merupakan cara menyebarkan salam yang menyelisihi sunnah. 

Bahkan, termasuk ciri-ciri dari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah ketika salam hanya diucapkan kepada orang yang dikenal.” (HR Ahmad: 3664).

4. Memulai salam orang yang dalam kondisi tertentu

Dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda,

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

"Hendaknya orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak." (HR Bukhari: 5764 dan Muslim: 4019).

5. Mengucapkan salam ketika masuk rumah

Sebagian ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah walaupun tidak berpenghuni. 

Firman Allah SWT pada QS. An-Nur ayat 61,

فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةًۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“....Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (QS. An-Nur: 61)

6. Menitipkan salam 

Suatu ketika seseorang menitipkan salam kepada kita untuk disampaikan kepada seseorang, “sampaikanLah salamku kepada si fulan.”

Disunnahkan bagi kita untuk menyampaikan salam kepada orang yang disalaminya.

Sebagaimana dalam hadits, 


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ. قَالَتْ: قُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لاَ نَرَى تُرِيْدُ رَسُوْلَ اللهِ.

Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Wahai Aisyah, Tadi Jibril mengirimkan salam kepadamu”. Aku (Aisyah) menjawab: “Dan baginya salam dan rahmat Allah, engkau (Rasulullah) dapat melihat apa yang tak dapat kami lihat.” (HR. Bukhari no. 6249 dan Muslim no. 2447)

Maka jawaban ketika mendapat titipan salam:

وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ

Wa Alaihissalam warahmatullah

“baginya salam dan rahmat Allah.”

Baca juga: 10 Keutamaan Salat Sunnah Beserta Hukum, Tingkatan, dan Maknanya

Dengan mengikuti sunnah-sunnah dalam memberi salam, kita dapat merealisasikan ajaran Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari

(MG Alya Hasna Khoirunnisa)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved