Mengembangkan Perspektif dan Insight Baru dengan Ilmu Sosial Dasar
Dalam kehidupan, manusia membutuhkan manusia lain untuk melaksanakan kegiatan serta aktivitas sehari-hari.
Muhammad Hafidz Erlangga
Mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada
“Manusia sebagai makhluk sosial” adalah diksi yang sering kita kenal dan dengar.
Namun, apakah istilah ini benar-benar relevan dan sudah kita laksanakan serta rasakan?
Pertanyaan ini menjadi acuan kita untuk menggali lebih dalam mengenai apa itu ilmu sosial, dampaknya terhadap cara berpikir manusia, dan seberapa penting hal ini dalam kehidupan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan membagikan sedikit pengetahuan yang saya miliki sebagai mahasiswa berdasarkan pembelajaran saya di kelas Ilmu Sosial Dasar.
Dalam kehidupan, manusia membutuhkan manusia lain untuk melaksanakan kegiatan serta aktivitas sehari-hari.
Artinya, mustahil bagi kita untuk tidak memerlukan individu lain dalam kehidupan.
Contoh sederhana dan mendasar: bagaimana kita bisa lahir tanpa seorang ibu? Apakah kita dapat makan nasi tanpa beras yang ditanam dan dipanen oleh petani? Hal-hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita.
Kemudian, istilah “sosial” berasal dari kata socius (bahasa Latin) yang berarti “segala sesuatu yang lahir.”
Menurut Soerjono Soekanto, sosial merujuk pada prestise seseorang di dalam masyarakat.
Secara keseluruhan, sosial adalah hal yang erat kaitannya dengan masyarakat dan telah melekat pada individu sejak ia lahir. Sosial ini sendiri akan selalu ada selama manusia ada.
Untuk memahami manusia sebagai makhluk sosial, kita perlu melihat dari tiga cabang pemikiran penting yang saling berhubungan:ontologis, aksiologis, dan epistemologis.
· Ontologis: Cabang pemikiran ini bertanya tentang realitas dan hakikat keberadaan sesuatu.
Manusia dikatakan sebagai manusia apabila ia hidup dan bernapas, namun hakikat keberadaannya ditentukan oleh dirinya sendiri atau hubungannya dengan individu lain?
Dalam cabang ilmu ini, manusia dianggap “ada” apabila ia menjadi bagian dari komunitas yang disebut masyarakat, bukan hanya sebagai individu semata.
· Aksiologis: Cabang ini membahas nilai-nilai dalam hakikat kehidupan, seperti etika dan moral.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, apakah sosial sudah kita laksanakan dan rasakan? Pertanyaan seperti ini muncul dalam cabang ilmu ini.
Manusia membawa nilai sejak lahir, seperti nilai agama, etika, estetika, dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut terbentuk melalui dinamika sosial dalam masyarakat.
Nilai sangat penting agar manusia tidak meninggalkan aturan atau norma yang telah ditetapkan di masyarakatnya.
· Epistemologis: Cabang ilmu ini meneliti bagaimana kita mengetahui dan memahami sesuatu. Misalnya, bagaimana manusia mengetahui tradisi dan budaya masyarakatnya?
Pengetahuan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui proses yang terjadi di dalam masyarakat. Proses tersebut diperlukan agar manusia dapat memahami pengetahuan.
Dari ketiga cabang ilmu tersebut, satu hal penting yang perlu ditekankan adalah interaksi. Interaksi dibutuhkan oleh manusia sebagai landasan untuk memastikan bahwa ia adalah makhluk sosial, bahwa ia dapat diakui sebagai manusia, bahwa ia dapat memahami pengetahuan yang sudah ada, serta mengetahui nilai-nilai yang telah melekat sejak lahir.
Interaksi juga memastikan bahwa manusia benar-benar menjadi bagian dari masyarakat dan memperkuat kedudukannya sebagai makhluk sosial.
Dari pembahasan di atas, dapat kita pahami bahwa manusia sebagai makhluk sosial adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindari.
Kebutuhan akan interaksi dengan individu lain menjadi dasar dari keberadaan kita dalam masyarakat.
Ilmu Sosial Dasar membantu kita memahami bahwa konsep sosial bukan hanya sekadar istilah, melainkan bagian dari hakikat manusia yang terwujud melalui nilai, pengetahuan, dan interaksi.
Dengan memahami ketiga cabang pemikiran ontologis, aksiologis, dan epistemologis kita dapat melihat bahwa keberadaan manusia selalu bergantung pada dinamika yang ada dalam masyarakatnya.
Oleh karena itu, interaksi menjadi fondasi utama yang menguatkan manusia sebagai makhluk sosial sekaligus memastikan keberlangsungan nilai-nilai yang mendasari kehidupan.(*)
Dosen UGM Sebut Kenaikan Tunjangan DPR Bukti Kurangnya Sense of Crisis |
![]() |
---|
Dana Bantuan Parpol di Sleman Diusulkan Naik Hingga 140 Persen, Ini Tanggapan Akademisi UGM |
![]() |
---|
Status Mahasiswa Magister UGM Kampus Jakarta Jadi Aktor Intelektual Pembunuhan Kacab Bank |
![]() |
---|
Hobi Scrolling Sosmed Setelah Aktivitas Seharian, Relaksasi atau Kecanduan? |
![]() |
---|
UGM Nonaktifkan Mahasiswa Pelaku Penculikan dan Pembunuhan Kacab Bank BUMN |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.