Sambut Nataru, BPS Kota Yogya Optimis Inflasi Bisa Terkendali

Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta optimis tren inflasi wilayahnya di akhir tahun mendatang bisa terkendali.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
Kepala BPS Kota Yogya, Mainil Asni 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta optimis tren inflasi wilayahnya di akhir tahun mendatang bisa terkendali.

Kondisi saat ini diyakini akan berbeda, meski secara historis momen Natal dan tahun baru (Nataru) kerap diiringi kenaikan inflasi akibat lonjakan permintaan.

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Mainil Asni, berujar, fenomena deflasi yang sempat terjadi selama empat bulan beruntun di tahun ini, menjadi salah satu penyebabnya.

"Jadi, barangkali perkembangan Desember nanti, secara tren, biasanya di akhir tahun ada kenaikan. Tapi, karena angka kita seperti yang dilihat tadi, itu masih sangat terkendali. Kita optimis inflasi bisa terkendali," katanya, Senin (2/12/24).

Benar saja, ia pun memaparkan, tingkat inflasi pada akhir bulan November 2024 relatif terkendali, atau di angka 0,21 persen. 

Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar pada kategori makanan, minuman dan tembakau, serta komoditas perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Baca juga: Pengamat Ekonomi UAJY Memperkirakan Inflasi DIY Meningkat pada Akhir Tahun Namun Tetap Terkendali

Mainil menyebut, pada bulan Desember, yang merupakan momen libur panjang, sektor angkutan diprediksi jadi penyumbang inflasi.

Namun, lanjutnya, pemerintah sudah mencanangkan beberapa kebijakan untuk menekannya, dengan menggulirkan beragam diskon.

"Kebijakan pemerintah katanya akan ada pemotongan harga tiket pesawat dan lain-lain. Jadi, sekarang belum bisa kita gambarkan. Tapi, biasanya yang naik transportasi," cetusnya.

Sedangkan dari sektor bahan pokok, pihaknya berharap musim hujan tidak terlalu mempengaruhi lonjakan harga di pasaran.

Meski, berdasar hasil pantauannya, sampai sejauh ini, harga kebutuhan pokok di Kota Yogya cenderung sangat stabil jelang akhir tahun.

"Tapi, kita tidak bisa memprediksi. Katakanlah cabai, bisa tiba-tiba tinggi, tiba-tiba rendah, begitu. Itu terjadi di semua daerah," pungkas Mainil. (aka)

 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved