Perintis Kuliner Mangut Lele di Bantul Mbah Marto Tutup Usia, Sosok Rendah Hati dan Suka Berbagi

Kabar duka itu dibenarkan oleh Dukuh Ngireng-ireng, Heru Prasetya. Disampaikannya, Mbah Marto tutup usia dikarenakan sakit tua.

TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
Karangan bunga ucapan duka cita di depan rumah Mbah Marto Ijoyo, di Bantul Rabu (6/11/2024) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Perintis kuliner legendaris Mangut Lele di Padukuhan Ngireng-ireng, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, yakni Mbah Marto Ijoyo, tutup usia pada Rabu (6/11/2024) sekitar 05.00 WIB.

Kabar duka itu dibenarkan oleh Dukuh Ngireng-ireng, Heru Prasetya. Disampaikannya, Mbah Marto tutup usia dikarenakan sakit tua.

"Beliau kan sakit karena sudah tua. Umurnya kan sudah 96 tahun," katanya kepada Tribunjogja.com.

Marto Ijoyo Pendiri Kuliner Legendaris Mangut Lele Mbok Marto di Sewon Bantul Meninggal Dunia
Marto Ijoyo Pendiri Kuliner Legendaris Mangut Lele Mbok Marto di Sewon Bantul Meninggal Dunia (Kolase Tribunjogja.com Sumber Foto Instagram @mangutlele_mbokmarto)

Menurutnya, Mbah Marto sudah berbulan-bulan hanya di tempat tidur dan tidak bisa bergerak karena mengalami sakit tua. Namun, beberapa waktu lalu, Mbah Marto pernah dibawa ke rumah sakit.

"Waktu pertama kali sakit itu kan pernah diperiksakan. Tapi, setelah itu pulang. Dan karena ini sakit tua, jadi Mbah Marto tidak mau makan dan sebagainya. Ya seperti itu, bukan karena sakit sesak napas atau bagaimana," papar dia.

Baca juga: Legenda Mangut Lele Asal Bantul Berpulang, Mbok Marto Sempat Menanyakan Pekerjaan ke Anak

Prosesi pemakaman dilakukan pada hari yang sama sekitar pukul 14.00 WIB. Almarhumah dimakamkan di dekat almarhum suami Mbah Marto yang telah berpulang lebih dulu beberapa tahun lalu.

"Lokasi makam kami kan kecil dan hanya untuk satu RT. Tapi memang sudah blok-blokan. Ada blok keluarga Mbah Marto dan lainnya, jadi prosesi pemakaman masih di bloknya. Dan letaknya tidak benar-benar jejer dengan makam atau kijing almarhum suaminya," ucapnya.

Menurutnya, makam Mbah Marto Ijoyo dengan suaminya berjarak sekitar dua makam. Dua makam di antara makam Mbah Marto Ijoyo dan almarhum suaminya adalah makam saudara satu trah dengan Mbah Marto Ijoyo.

"Nah mbah kakung (suami Mbah Marto Ijoyo) itu meninggal sekitar 2008-2009 dan meninggalnya karena sudah sepuh juga," jelas Heru.

Sosok Mbah Marto Ijoyo

Heru mengaku merasa sedih dan kehilangan sosok perintis kuliner legendaris tersebut. Ia lantas menceritakan sosok Mbah Marto Ijoyo semasa hidup.

"Beliau hidup sederhana. Biasa seperti orang jaman dulu. Sahaja dan tidak suka pamer," urainya.

Selain itu, setiap akhir tahun Mbah Marto kerap mengadakan syukuran dengan cara memberikan sedekah berupa kenduri.

"Dan beliau pernah nanggap jathilan, terus ngadain acara-acara pengajian. Beliau lebih terkenal rendah hati, pendiam, suka berbagi, dan enggak suka berantem dengan orang lain," tutur dia.

Baca juga: Marto Ijoyo Pendiri Kuliner Legendaris Mangut Lele Mbok Marto Bantul Meninggal Dunia

Bagaimana dengan nasib usaha kuliner legendaris yang dirintis almarhumah, Heru mengatakan bahwa itu sudah diwariskan kepada anak-anak Mbah Marto.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved