Human Interest Story
Kisah Anisa Azis yang Sempat Kuliah di Spanyol, Merasa Kaget dengan Cara Studinya
Di tahun 2015, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) itu pernah mengikuti pertukaran mahasiswa ke Barcelona, Spanyol.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengalaman Anisa Azis kuliah di Spanyol seperti tidak lepas dari ingatannya.
Di tahun 2015, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) itu pernah mengikuti pertukaran mahasiswa ke Barcelona, Spanyol.
Anisa yang kuliah di jurusan Teknik Informatika, belajar selama 10 bulan di Universitat Politècnica de Catalunya, Barcelona pada tahun 2015 hingga 2016.
Keinginan Anisa untuk menjalani pertukaran pelajar sudah muncul sejak semester tiga, saat ia mulai memenuhi persyaratan untuk mengikuti program seperti Erasmus.
Namun, prosesnya tidak langsung berjalan mulus.
“Aku sendiri beberapa kali mendaftar, tapi tidak langsung dapat,” ungkapnya kepada Tribun Jogja, beberapa waktu lalu.
Setelah ia berhasil lolos seleksi, Anisa mengaku sempat mengalami culture shock atau gegar budaya, terutama karena metode belajar dan suasana kampus yang berbeda dari yang ia rasakan di Indonesia.
Meski dirinya masih berstatus mahasiswa S1 di UGM, di Spanyol Anisa ditempatkan di kelas S2 yang berbasis bahasa Inggris.
Baca juga: FIB UGM Dalami Tuduhan Plagiarisme yang Diduga Dilakukan Dosen Sejarah
Hal ini cukup menantang, terutama karena ia harus beradaptasi dengan bahasa akademik dan lingkungan baru yang lebih intensif.
“Di Spanyol, ternyata masuknya di jenjang S2, karena aku masih S1 di situ. Yang bahasa Inggrisnya, sulitnya di situ,” ujarnya.
Namun, Anisa merasa cukup terbantu dengan kemiripan budaya, termasuk dalam hal pelafalan bahasa dan jenis makanan yang berbasis seafood karena Barcelona yang dekat dengan pantai.
Di sana, Anisa juga mendapatkan kesempatan belajar khusus di bidang software engineering, yang belum bisa ia pelajari secara mendalam di jenjang S1 di Indonesia.
Ia mengatakan bahwa pengalaman ini membantunya memahami alur pembuatan perangkat lunak dari sisi pengguna, sesuatu yang ia nilai sangat bermanfaat untuk karirnya di bidang teknologi.
Sebelum berangkat ke Spanyol, Anisa telah mengikuti persiapan dari Erasmus yang diadakan di Jakarta pada Maret 2015.
Di acara pre-departure ini, para peserta program diberikan pembekalan seputar kehidupan dan kebudayaan yang akan mereka hadapi di negara tujuan.
Tantangan lain yang ia rasakan adalah perbedaan iklim, terutama di musim dingin.
“Musim dingin di sana cukup menantang, meski enggak sampai salju, rasanya kayak di kulkas,” katanya dengan tawa.
Pengalaman bertukar budaya dan belajar di Spanyol membawa perubahan besar bagi Anisa.
Tak hanya menambah wawasan akademiknya, tetapi juga membentuk kepribadiannya menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan di lingkungan yang berbeda. (*)
| Kisah Azizah, Bocah 6,5 Tahun di Kota Yogyakarta Cari Rongsok hingga Rawat Ayah Sakit |
|
|---|
| Kisah Mbah Kibar, Seniman Asli Bantul yang Berjuang Tebus Tanah Leluhur Lewat Goresan Kanvas |
|
|---|
| Kisah Santri Yaketunis Yogyakarta Menjemput Cahaya Alquran Lewat Titik-titik Braille |
|
|---|
| Cerita Santri Darul Ashom di Godean Sleman, Mengejar Cita-cita Jadi Pengajar Agama bagi Tunarungu |
|
|---|
| Kisah Aji Ramadan, Driver Ojol yang Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Anisa-Azis.jpg)