Gaya Hidup Sehat dan Deteksi Dini jadi Kunci Tekan Kasus Kanker Payudara di DIY

Berdasar data Dinkes DIY, terdapat 597 kasus kanker payudara selama tahun 2024. Jumlah ini lebih kecil dari tahun 2023, tercatat sebanyak 1.690 kasus

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
DOK. Sutterhealth.org
Cara mendeteksi kanker payudara 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penurunan kasus kanker payudara di DIY jadi bukti bahwa perubahan gaya hidup dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini sangat efektif.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, terdapat 597 kasus kanker payudara selama tahun 2024. Jumlah ini lebih kecil dari tahun 2023, tercatat sebanyak 1.690 kasus.

Kepala Dinkes DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan, kanker payudara termasuk penyakit kanker tertinggi yang ditemukan di jenis kelamin perempuan, disusul kanker serviks.

"Dua kasus kanker yang paling banyak di DIY untuk semua jenis kelamin baik 2023 maupun 2024, sama kanker payudara dan kanker paru-paru," ujar Pembajun.

"Kemudian kanker paru 640, kanker kolateral 635, dan kanker serviks 454 kasus pada 2023. Tahun 2024 kanker paru 289, kanker serviks 141, dan kanker kolorektal 120," tambahnya.

Lebih lanjut, Pembajun menerangkan bahwa gaya hidup tidak sehat menjadi salah satu penyebab utama kanker payudara.

"Pola makan yang buruk, konsumsi alkohol, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara," ujarnya.

Baca juga: Berawal dari Penyelidikan Tawuran, Polresta Magelang Ungkap Kasus Persetubuhan Anak di Bawah Umur

Selain itu, faktor genetik dan lingkungan juga turut berperan.

Orang dengan genetik keturunan dinilai mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak mempunyai genetik keturunan penyakit kanker.

Namun, salah satu faktor yang cukup menarik adalah menyusui. Ibu yang tidak menyusui bayinya memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara.

Melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), masyarakat didorong untuk menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Pembajun mengatakan bahwa upaya preventif menjadi kunci dalam menurunkan angka penderita kanker.

"Kami gencar mengkampanyekan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan dalam (IVA) untuk deteksi dini kanker payudara dan serviks," ujarnya.

Untuk memudahkan akses masyarakat, berbagai puskesmas di DIY menyediakan layanan SADANIS (pemeriksaan payudara secara klinis) dan IVA test secara gratis.

Sebagai contoh, di wilayah Sleman pada tahun 2024 ditargetkan 1.500 wanita usia subur (WUS) akan menerima pemeriksaan IVA test dan HPV DNA secara bersamaan. (HAN)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved