Berita Bantul Hari Ini

Polres Bantul Catat 18 Kasus Bunuh Diri Terjadi Sepanjang 2024

Polres Bantul berupaya meningkatkan pendekatan kepada masyarakat berupa pemberian imbauan agar bisa menekan angka kasus bunuh diri .

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL -  Polres Bantul berupaya meningkatkan pendekatan kepada masyarakat berupa pemberian imbauan agar bisa menekan angka kasus bunuh diri .

Upaya itu dilakukan, mengingat kasus bunuh diri marak terjadi pada beberapa hari terakhir. 

Kasi Humas Polres Bantul , AKP I Nengah Jeffry, mengungkapkan, dari data kepolisian, tercatat sudah ada 18 orang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri selama tahun 2024.

Bahkan sudah ada dua warga yang meninggal dunia, karena bunuh diri dalam tiga hari terakhir.

"Terbaru, peristiwa bunuh diri terjadi di Triwidadi, Pajangan, Bantul pada Kamis (5/9/2024) pagi. Seorang wanita lanjut usia, K (75) warga setempat. Ia ditemukan tergantung tali tampar di kamarnya," paparnya kepada awak media, Kamis (5/9/2024).

Dua hari sebelumnya juga terjadi kasus serupa di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, pada Selasa (3/9/2024) sore.

Seorang laki-laki berinisial F (30) ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di rumah orang tuanya sekitar pukul 16.32 WIB. 

Sementara itu, Kapolres Bantul , AKBP Michael R Risakotta, mengimbau, kepada seluruh masyarakat Kabupaten Bantul agar saling mengingatkan satu sama lain, bila sedang mengalami masalah dan disarankan untuk tidak memilih jalan bunuh diri.

"Kami sebagai aparat kepolisian tidak henti-hentinya memberikan imbauan kepada masyarakat untuk saling mengingatkan. Mungkin banyak sanak saudara atau keluarga yang sedang frustrasi, kadang-kadang masalah ekonomi. Maka dari itu marilah kita sama-sama untuk saling mengingatkan dan membantu mereka yang sedang mengalami depresi," katanya.

Michael mengatakan kasus bunuh diri di Bantul kebanyakan lantaran depresi berlebihan akibat masalah ekonomi serta kebanyakan masyarakat menganggap remeh tentang masalah depresi.

"Untuk hal seperti itu tidak hanya di Bantul tapi pasti di semua daerah ada yang seperti itu, namun karena momennya pas akhir-akhir ini banyak kejadian bunuh diri. Oleh karena itu kita akan meningkatkan imbauan-imbauan kepada masyarakat," ungkapnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan video atau konten yang berisi tentang kasus bunuh diri.

“Bunuh diri bukan hal yang seharusnya disebarluaskan. Tidak ada alasan untuk menyebarluaskan penderitaan orang lain,” kata dia.

Sekali tersebar, konten tersebut akan sulit untuk dihapus.

Dan hal ini hanya akan memicu dampak negatif pada masyarakat, khususnya bagi keluarga dan teman-teman korban.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved