Berita Bisnis Terkini
Bitcoin Turun di Bawah 60.000 Dollar Lagi, Apakah Ini Awal Tren Turun?
Setelah sempat menyentuh level US$64.000, kini harga Bitcoin kembali turun di bawah US$60.000.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com - Bitcoin kembali menarik perhatian dengan pergerakan harganya yang sangat fluktuatif.
Setelah sempat menyentuh level US$64.000, kini kembali turun di bawah US$60.000.
Penurunan lebih dari 4 persen ini memicu kekhawatiran akan potensi tren bearish yang lebih panjang, terutama di tengah pasar yang masih mencari arah yang jelas.
Menurut Trader Tokocrypto , Fyqieh Fachrur, penurunan ini terjadi setelah pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang memicu reli ke level tertinggi US$65.055 pada hari Jumat (23/8).
Namun, sentimen positif ini tidak bertahan lama.
"Pekan terakhir Agustus ini, ada beberapa indikator ekonomi AS meredakan kekhawatiran tentang kemungkinan pendaratan keras ekonomi AS. Hal ini juga mengurangi spekulasi tentang pemangkasan suku bunga agresif oleh The Fed, yang berimbas negatif pada harga Bitcoin," kata Fyqieh.
Arus masuk pasar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang mencapai total US$202,6 juta pada Selasa (27/8) juga sempat mendorong harga Bitcoin ke level tertinggi harian US$63.236.
Namun, aksi jual segera mengikuti, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah pasar yang masih diliputi ketidakpastian.
Dampak Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga The Fed Faktor lain yang turut mempengaruhi harga Bitcoin adalah inflasi dan data pengeluaran pribadi di AS.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2024 dapat meningkatkan permintaan Bitcoin , tetapi inflasi yang tinggi dan peningkatan pengeluaran pribadi dapat meredam harapan pemangkasan suku bunga pada September, yang pada gilirannya bisa berdampak negatif pada harga Bitcoin .
Data dari FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan peluang pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin dan 50 basis poin masing-masing sebesar 65,5 persen dan 34,5 persen.
Menurut Fyqieh, keputusan The Fed ini akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan mendatang.
Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, harga Bitcoin bisa jatuh hingga ke level US$55.000, memberikan tekanan tambahan pada pasar.
"Sentimen pasar secara keseluruhan dalam jangka pendek masih tetap bearish, dengan banyak trader yang mengambil posisi short pada Bitcoin. September biasanya menjadi bulan yang menantang bagi Bitcoin, dengan data historis menunjukkan bahwa harga cenderung turun rata-rata 5,64 persen dalam periode 2013-2022. Namun, pada September 2023, Bitcoin berhasil mencatat kinerja positif, yang merupakan pertama kali sejak 2016, memberikan sedikit optimisme di tengah pasar yang bearish," terang Fyqieh.
Potensi Lonjakan September-Oktober 2024 Fyqieh menjelaskan bahwa Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi yang dikenal sebagai "ReAccumulation Range."
| Jelang Natal, Perajin Patung Rohani di Bantul Banjir Pesanan |
|
|---|
| KAI Daop 6 Yogyakarta Siap Dukung Program Angkutan Motor Gratis Periode Natal 2024 |
|
|---|
| Transaksi Pembayaran Jadi Katalisator Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan |
|
|---|
| Sambut Libur Akhir Tahun, YIA Kulon Progo Akan Turunkan Tarif PJP2U dan PJ4U hingga 50 Persen |
|
|---|
| Truk Mogok di Perlintasan Kereta Wilayah Purwokerto, Sejumlah KA Alami Kelambatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Mata-uang-kripto-Bitcoin.jpg)