Tampilkan Karya Interpretasi Serat Centhini, Didik Nini Thowok Guncang Artjog 2024

Mereka memadukan pertunjukan wayang golek dan lantunan tembang dari beberapa pupuh kisah tersebut, dalam seni tari yang ekspresif.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
Aksi panggung seniman legendaris Didik Nini Thowok, saat mementaskan hasil iterpretasi Serat Centini, di ajang Artjog 2024, di Jogja Nasional Museum, Kamis (22/8/24) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seniman tari legendaris Didik Nini Thowok berhasil memukau peonton saat mementaskan hasil interpretasi Serat Centini, di ajang Artjog 2024, di Jogja Nasional Museum, Kamis (22/8/2024) malam.

Karya yang dibungkus sebuah pertunjukan bertajuk 'Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan' itu, Didik berbagi peran dengan Elizabeth D Inandiak (narrator), Anon Suneko (composer) dan Sarah Diorita (performer).

Mereka memadukan pertunjukan wayang golek dan lantunan tembang dari beberapa pupuh kisah tersebut, dalam seni tari yang ekspresif.

Selama lebih kurang 30 menit, penonton diajak melihat dan mendalami kembali salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru itu, secara interpretatif dan kontemplatif.

Elizabeth D Inandiak, yang merupakan penyair berkebangsaan Prancis, menjadi kolaborator dalam menyuguhkan karya kisah cinta Amongraga dan Tambangraras tersebut.

Ia pun mengisahkan, keputusannya mendapuk Didik sebagai aktor dalam pertunjukan ini, karena dianggap sangat lekat dengan kepribadian Centini, yang direpresentasikan rendah hati.

"Serat Centini ini ada 12 jilid, 4.200 halaman. Saat menggali, ternyata Centini adalah tokoh utama suluk adiluhung Jawa tersebut," kata Elizabeth, selepas pertunjukan.

"Sebenarnya sudah banyak, tapi Serat Centini selalu dicuplik sebagian-sebagian, lalu alur cerita tidak diperhatikan. Padahal dari keseluruhan itu, alurnya sempurna," urainya.

Baca juga: Instalasi Seni Karya Ramadhan Arif Fatkhur Jadi Magnet bagi Pengunjung ARTJOG 2024

Dirinya pun tidak memungkiri, proses membuat karya interpretasi, dari serat hingga menjadi sebuah pertunjukan, membutuhkan proses panjang. 

Menurut Elizabeth, Serat Centini yang masih berbahasa Jawa dan belum diterjemahkam dalam bahasa papaun, memberikan tantangan tersendiri baginya sebagai orang Prancis.

"Bahasa Jawanya (dalam Serat Centini) juga bahasa Jawa yang susah, sehingga saya harus bekerjasama dengan ahli bahasa Jawa," terangnya. 

Sebagai informasi, seni pertunjukan ini tersaji sebagai bagian dari program kolaborasi antara Artjog dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Sejak 2019, sinergitas telah terjalin, untuk menyediakan ruang bagi seniman-seniman muda di Indonesia, dalam upaya menciptakan ekosistem seni pertunjukan yang kreatif dan mandiri.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan, dari tahun ke tahun Artjog menjadi ajang bagi seniman rupa dan panggung untuk menampilkan karyanya ke hadapan pengunjung yang memiliki kecintaan tinggi dengan seni.

Lewat program performa ARTJOG x Bakti Budaya Djarum Foundation yang dihadirkan tahun ini, semakin terbuka kesempatan bagi para pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan para seniman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved