Diikuti Wakil 11 Negara Asia- Pasifik, Perpusnas Gelar Program Transformasi Perpustakaan Inklusif

Perpusnas menggelar Program Berbagi Pengetahuan tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di Yogyakarta dan Gunungkidul

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar program Berbagi Pengetahuan tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di Yogyakarta, Senin (12/8/2024) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Program Berbagi Pengetahuan tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digelar di Yogyakarta dan Gunungkidul berhasil menarik minat 19 peserta dari 11 negara Asia-Pasifik, Senin (12/8/2024).

Inisiatif ini bertujuan untuk berbagi praktik terbaik dalam meningkatkan literasi, kreativitas, serta mengurangi kemiskinan akses informasi.

Diinisiasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), program TPBIS ini merupakan upaya konkrit untuk mewujudkan perpustakaan yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga perpustakaan, program ini diharapkan dapat menjadi katalisator perubahan sosial.

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso mengatakan, peserta yang hadir dalam kegiatan ini berasal dari berbagai negara di antaranya Malaysia, Maladewa, Laos, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Vietnam serta Indonesia.

Selama beberapa hari, para peserta tidak hanya mengikuti diskusi panel dan presentasi, tetapi juga melakukan kunjungan langsung ke desa-desa yang telah berhasil menerapkan program TPBIS.

Salah satunya adalah Desa Pengkol,Kedungkeris, Kabupaten Gunungkidul.

Baca juga: Perpusnas Dorong Pemulangan Manuskrip Warisan HB II Dimasukkan RPJMN 2025-2029

Di desa ini, peserta dapat melihat langsung bagaimana perpustakaan desa telah menjadi pusat kegiatan masyarakat, mulai dari kegiatan belajar mengajar, pelatihan keterampilan, hingga forum diskusi.

"Kami berharap pendekatan ini memberikan wawasan yang lebih kaya dan berkesan serta memperkuat pemahaman peserta terkait pentingnya perpustakaan dalam transformasi sosial," terangnya.

Program TPBIS diharapkan dapat menjadi model bagi negara-negara lain dalam mengembangkan perpustakaan yang lebih relevan dan berdampak.

Perpusnas berkomitmen untuk terus mengembangkan program ini dan memperluas jangkauannya.

"Kami berharap program TPBIS dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," urai Joko Santoso. 

Kolaborasi internasional menjadi kunci keberhasilan program TPBIS. Dengan melibatkan berbagai negara, program ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperkuat jaringan kerja sama antar perpustakaan.

"Melalui program ini, kita dapat belajar satu sama lain dan saling menginspirasi. Saya yakin, dengan bekerja sama, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakat kita," ujar Kepala Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri Kementerian Sekretariat Negara, Noviyanti.

Salah satu ciri khas program TPBIS adalah fokusnya pada inklusivitas. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, memiliki akses yang sama terhadap informasi dan pengetahuan.

Selain itu,program ini juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan perpustakaan.

"Perpustakaan harus menjadi ruang publik yang inklusif, di mana semua orang merasa diterima dan dihargai," ujar Wahyu Nugroho, Staf Ahli Bupati Gunungkidul. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved