Warga Miskin di Glagaharjo Berdaya Melawan Kemiskinan dengan Ternak Kambing dan Cabai
Kemiskinan masih menjadi salah satu permasalahan utama di DIY. Namun, Kalurahan Glagaharjo, memiliki tekad kuat untuk memeranginya
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kemiskinan masih menjadi salah satu permasalahan utama di DIY. Namun, Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, memiliki tekad kuat untuk memeranginya.
Salah satu upaya mereka adalah dengan memberikan akses kepada 30 warga miskin untuk menggarap tanah kalurahan seluas 2 hektar tanpa dipungut biaya sewa.
Tanah tersebut dimanfaatkan untuk peternakan kambing perah dan budidaya cabai. Kambing yang diternakkan adalah jenis Saanen yang terkenal dengan produksi susu tinggi.
Hasil susu kambing ini dijual kepada rekanan dengan harga Rp 19.000 per liter.
Sementara itu, cabai yang ditanam adalah cabai rawit gorga yang tahan hama dan penyakit serta memiliki hasil panen tinggi. Diperkirakan panen cabai dapat dilakukan 15-17 kali dengan hasil 3-5 kg per petik.
Pendapatan dari kedua usaha ini dibagikan kepada para petani dan anggota kelompok.
Sebesar 10 persen dialokasikan untuk anggota yang tidak bisa bekerja di lapangan, 50 persen lebih untuk yang bekerja di lapangan, 20 persen untuk modal, dan 10-15 persen untuk kas kelurahan.
Usaha ini telah menunjukkan hasil yang positif. Dalam waktu 4 bulan, jumlah kambing sudah bertambah dari 17 menjadi 27 ekor. Petani pun mulai mendapatkan penghasilan dari penjualan susu dan cabai.
"Jadi yang menggarap tanah, mengurus pertanian dan peternakan ini kita fokuskan kepada keluarga miskin berjumlah 30 orang, namanya kelompok Tolak Miskin. Mereka tinggal menggarap, mengelola, merawat, panen dan tidak dikenai sewa sama sekali. Kita mengikuti aturan pemerintah, khususnya Pergub DIY Nomor 24 Tahun 2024 dimana warga miskin harus kita fasilitasi," terang Lurah Glagaharjo, Suroto.
Baca juga: Harga Telur Ayam Ras Hari Ini Sabtu 20 Juli 2024 Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul,Kota Jogja
Suroto menuturkan, dari 30 keluarga miskin yang tergabung dalam kelompok Tolak Miskin, sebanyak 20 orang anggota aktif mengelola ternak kambing perah dan budidaya cabai secara langsung, sementara 10 lainnya adalah keluarga miskin yang tidak memungkinkan lagi mengerjakan aktivitas di lapangan seperti lansia.
Peternakan kambing perah dan pertanian budidaya cabai digarap sepenuhnya menggunakan dana keistimewaan sebesar Rp 315 juta.
Danais tersebut digunakan membiayai seluruh keperluan sarana dan prasarana, seperti membeli 17 ekor kambing Saanen.
Kambing Saanen adalah salah satu jenis kambing perah yang sangat populer di dunia, dikenal karena kemampuan produksi susu yang tinggi dan sifatnya jinak.
Lebih lanjut, Suroto mengaku sudah mempunyai pasar alias beberapa rekanan guna menyerap produksi susu tersebut yang didistribusikan setiap pekannya.
Selain dipasarkan retail via rekanan, pihaknya juga menjualnya sendiri dan rata-rata bisa mendapatkan kisaran Rp 1,9 juta setiap pekannya.
Pengembangbiakan kambing ini pun dilakukan secara sistematis dari hulu hingga ke hilir. Pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan dinas-dinas setempat dalam memastikan keamanan dan kesehatan kambing perah.
"Peternakan kambing ini bisa kita andalkan untuk mengurangi dan mengentaskan kemiskinan khususnya di Glagaharjo. Kalau misalkan hasil susu itu dalam satu minggu, dalam satu bulan bisa membayar konsentratnya dan masih untung dengan anaknya. Jadi menurut saya nggak ada ruginya," imbuhnya.
Salah satu petani anggota kelompok Tolak Miskin bernama Margono berterimakasih terhadap danais yang diberikan sehingga petani tinggal mengerahkan tenaga untuk menggarap lahan pertanian yang telah disediakan beserta bibit cabai dan segala perlengkapannya.
"Alhamdulillah kami bisa mendapatkan pekerjaan ini. Sangat membantu sekali. Selama ini memang belum ada hasilnya karena kita baru bertani saja. Nanti ketika panen baru mendapatkan hasilnya,” katanya.
Senada, salah satu pengelola peternakan kambing perah, Jarwanto menuturkan dirinya bersama rekannya bertugas membersihkan kandang, kemudian bersiap untuk proses memerah, dan memberi susu anak kambing setiap hari.
Sebelumnya, ia telah dibekali pelatihan dari OPD setempat hingga akhirnya dapat melakukan SOP pemerahan kambing dengan baik.
"Pekerjaan ini sangat membantu ekonomi saya yang cuma lulusan SMK. Saya sendiri sebelumnya kurang suka beternak. Mulai di sini saya mulai suka, mengetahui tentang ilmu-ilmu berternak," pungkasnya. (HAN)
| Pemkab Magelang Benahi Data Kependudukan, Bidik Pengentasan Kemiskinan Lebih Akurat |
|
|---|
| Harga Cabai Rawit Merah Melambung Tinggi di Kulon Progo, Tembus Rp 100 Ribu Per Kilogram |
|
|---|
| Kanwil Kemenkum DIY Dorong Cabai PaKu dan Topeng Bobung Peroleh Indikasi Geografis |
|
|---|
| Harga Sayuran di Pasar Agro Sewukan Magelang Anjlok Saat Panen Raya |
|
|---|
| Sri Sultan HB X Akui Kemiskinan dan Ketimpangan Wilayah Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pemda DIY |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Warga-Miskin-di-Glagaharjo-Berdaya-Melawan-Kemiskinan-dengan-Ternak-Kambing-dan-Cabai.jpg)